Free songs
  • RSS feed
  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
 
Tag Archives:

sound

Home » sound
wireless microphone systems

5 Kesalahan Yang Perlu dihindari Saat Menggunakan Wireless Microphone

Wireless Microphone System

Menggunakan microphone wireless memang memberikan keleluasaan dan kemudahan  baik bagi penggunanya juga bagi crew sound system, namun apabila tidak memahami dasar bagaimana sebuah wireless system dan gelombang radio (RF) bekerja maka akan terjadi hal – hal seperti sinyal yang hilang (dropouts), interferensi dan distorsi.

Berikut 5 kesalahan yang umum terjadi ketika menggunakan microphone wireless, baik itu handheldmicrophone maupun in-ear monitoring system.

  1. Sinyal Terhalang

Menjaga jalur antara transmitter dan receiver antenna sebaik mungkin. Hindari benda logam, dinding, dan sejumlah orang (apalagi dalam jumlah banyak) antara antenna receiver dan transmitter pada microphone. Idealnya, reciver antenna sebaiknya berada pada ruangan yang sama dengan transmitter dan berada tanpa halangan. Karena tubuh manusia akan menyerap, menghalangi, menginterferensi dan memantulkan sinyal Radio Frekuensi (RF) yang dipancarkan transmitter mic wireless.

wireless microphone

Dropout signal

Selain itu apabila tangan menghalangi antenna external pada handheld transmitter pada microphone, maka efektivitas output akan berkurang sebanyak 50% atau lebih. Sama dengan itu, apabila fleksible antenna pada bodypack transmitter tertekuk atau terlipat, maka transmisi sinyal juga akan berkurang sangat signifikan.

  1. Kesalahan Jenis Antenna Atau Salah Penempatannya

Receiver antenna menjadi bagian yang paling sering salah dimengerti dalam penggunaan microphone wireless. Kesalahan seleksi antenna, penempatan, atau kabel bisa menyebabkan jangkauan yang jadi lebih pendek, dead spots pada area tertentu dan / sinyal yang lemah yang diterima pada reciver yang pada akhirnya menyebabkan gangguan. Walaupun teknologi semakin modern, akan tetapi antenna yang tepat juga harus tetap ditempatkan pada lokasi yang sesuai agar performanya tetap maksimal dan selalu dapat diandalkan.

Wireless Microphone

Source : shure.com

Untuk memastikan performa yang baik, jarak antar antenna paling sedikit ¼ dari panjang gelombang ( kira – kira 5 inchi pada 600MHz ). 1 panjang gelombang ( +/- 20 inchi pada 600 mHz) akan lebih baik. Antenna pada receiver sebaiknya di konfigurasi membentuk “V”, dimana akan memberikan daya tangkap yang lebih baik ketika transmitter bergerak dan tertangkap pada berbagai macam sudut.

Shure Directional Antenna

remote antenna. source : shure.com

Berusaha menjaga agar antenna sedekat mungkin dengan jalur transmitter. Antenna juga sangat spesifik frekuensi-band tertentu. jangan mencoba menggunakan antenna dari system lain tanpa double-checking frekuensi terlebih dahulu.

Jika receiver akan ditempatkan jauh dari area performance (di ruang operator atau rack tertutup) ½-wave antenna atau directional antenna sebaiknya dipasang terpisah (idealnya di atas audiens) agar frekuensi ke transmitter tidak terhalang. ¼-wave antenna sebaiknya jangan pernah di pasang terpisah (remotely mounted), karena membutuhkan receiver chassis sebagai ground plane.

Meningkatkan jarak antara berbagai antenna menjadi 1 panjang gelombang (sekitar 20 inch pada 600MHz) akan meningkatkan performa.  Lebih dari satu panjang gelombang, jarak ekstra antara antenna tidak akan meningkatkan performa frekuensi secara signifikan, akan tetapi memberikan jangkauan yang lebih baik pada panggung yang besar, tempat ibadah atau ruang meeting

wireless microphone

source : shure.com

Jika antenna akan ditempatkan jauh dari panggung, sebaiknya gunakan directional antenna untuk meningkatkan daya terima sinyal secara langsung dan sedikit dari sudut yang lain.Wireless Microphone

Jika antenna akan dihubungkan dengan receiver dengan kabel coaxial yang panjang, hubungkan amplifier antenna yang berguna untuk mengatasi sinyal loss pada kabel. Sedikit-banyaknya sinyal yang hilang tergantung dari panjang dan jenis kabel yang digunakan. Oleh karena itu ikuti rekomendasi dari pabrikan. Jumlah bersih (total less) sebaiknya tidak melebihi dari 5 dB.

wireless microphone

source : shure.com

  1. Set Up Frekuensi Yang Buruk.

Set up wireless frekuensi yang tepat harus memenuhi dua kriteria sebagai berikut :

  1. Frekuensi harus menghindari saluran TV lokal yang aktif
  2. Frekuensi harus saling kompatibel

Transmitter TV biasanya beroperasi pada power level 1 juta watts sedangkan wireless mic biasanya hanya 50mW atau kurang. Untuk melawan interferensi siaran tv, hindari menggunakan frekuensi tv lokal.

Disebut Lokal pada umumnya berjarak antara 50 – 60 mil, tergantung dari jangkauan transmitter tv dan pada lokasi di mana wireless microphone digunakan. Kabar baiknya penggunaan wireless microphone pada area indoor lebih sedikit beresiko bila dibandingkan penggunaan pada area outdoor karena struktur bangunan akan berfungsi sebagai penghalang sinyal tv.

Tidak Istilah Yang Namanya “Set And Forget”

wireless microphone

wireless microphone receiver. source : shure.com

Walaupun perangkat sound system tidak berpindah – pindah, radio frekuensi dapat berubah tanpa di duga. Walupun frekuensi stasiun tv selalu konstan, tapi jika terdapat wireless system lain dari perangkat lain di tempat atau interferensi dari resto / coffee shop terdekat—maka wireless frekuensi perlu di sesuaikan lagi. Yang terbaik dilakukan sound check sebelum digunakan. Itu kenapa koordinasi antar frekuensi sangat penting.

  1. Manajemen Baterai Yang Buruk

Walaupun kenyataannya baterai yang digunakan pada transmitter merupakan hal sangat penting dalam penggunaan wireless mic, tidak jarang pengguna menggunakan baterai murahan demi menghemat uang. Sebagian besar pabrikan mensyaratkan alkaline atau lithium baterai karena output voltase stabil dengan daya tahan baterai yang bagus. Ini sangat penting, karena transmitter akan mampu mengatasi distorsi suara atau sinyal yang menurun ketika voltase rendah. Baterai yang dapat di isi ulang (rechargeable battery) tampaknya solusi ideal, tapi kebanyakan hanya 20 persen dari daya maksimum walaupun dalam kondisi penuh.

Untuk mengatasi masalah baterai, hati – hati dalam membandingkan voltase transmitter yang dibutuhkan dengan output voltase pada baterai untuk menjamin baterai mampu bertahan sepanjang acara. Untuk penggunaan 9 Volt, jenis baterai lithium-ion akan bekerja ideal. Sedangkan jenis baterai Ni-Mh dan Ni-Cad hanya akan bertahan beberapa jam saja. Untuk penggunaan AA, Ni-Mh rechargeable battery menawarkan performa yang sama dengan sebuah baterai alkaline.

wireless microphone

source : shure.com

Penggunaan baterai isi ulang memang cara yang pas untuk menghemat uang selama mampu secara efektif mengaturnya. Selalu copot baterai dari transmitter setiap selesai digunakan. Ini akan mencegah baterai yang digunakan dalam kondisi yang tidak penuh dan juga mencegah kebocoran baterai yang akan merusak transmitter.

 

  1. Set Up Gain Yang Tidak Sesuai

Mengatur input gainmerupakan penyesuaian yang sangat penting pada microphone wireless. Distorsi akan terjadi apabila gaindi atur terlalu tinggi, dan signal-to-noiseburuk ketika gain di set up terlalu rendah. Sebagaian besar wireless system memiliki gain control pada transmitter. Hal ini akan membantu berpikir kalau gain control berfungsi sama sebagai “trim” atau “gain” pada mixer, yaitu bertujuan untuk mengatur sensitivitas input serendah mungkin untuk mencegah input overload atau “clipping” tapi cukup tinggi  di atas system noise floor.

Pengaturan pada gain pada transmitter wireless sama pada mixer input gain, yaitu atur gain control setinggi mungkin hingga tepat sebelum indikator nyala merah (peak atau overload). Untuk wireless system indikator ini biasanya pada receiver, sehingga perlu di cermati bagian depan reciver ketika digunakan. Jika indikator peak dan terus kedap kedip, kurangi gain pada transmitter hingga nyala pada indikator nyala atau kedap – kedip hanya sesekali. Jika lampu indikator tidak kedap – kedip, tingkatkan gain hingga hanya berkedip pada batas sebelum sinyal akan tinggi.

wireless microphone

sennheiser wireless microphone transmitter

Banyak wireless mic memiliki output level control pada receiver. Akan tetapi karena control ini hanya akan berpengaruh pada receiver output, maka itu tidak akan memiliki pengaturan gain yang sesuai pada transmitter. Oleh karena itu, jika terjadi distorsi atau signal-to-noise yang buruk pada transmitter, maka hal tersebut tidak dapat diperbaiki dengan merubah level receiver output. Sebagian besar profesional merekomendasikan membiarkan hal ini pada control maksimal. Selama input pada mixer mampu mengakomodasi level ini, keseluruhan system akan berjalan pada dynamic range sebaik mungkin.


Sumber : Shure Worldwide, Sennheiser electronic GmbH & Co

Desibel Sound

Apa yang dimaksud dengan desibel dan bagaimana mengukurnya?

Suara di ukur dalam satuan unit desibel, tapi apa sebenarnya desibel?

 

Desibel biasa disingkat dB, merupakan satuan unit dari intensitas suara, akan tetapi skala untuk mengukurnya, skala desibel, bisa dibilang agak sedikit aneh. Hal pertama yang perlu disadari kalau desibel tidak se-konvensional satuan seperti meter, kilogram, atau detik (second).

Desibel ukuran spesifik. Kalau kita tau berapa meter (sesuatu) maka kita bisa memperkirakan seberapa jauh itu. Akan tetapi desibel merupakan cara membandingkan dua jumlah yang berbeda. Kurang lebih seperti persentase, desibel tidak ‘menggambarkan’ secara pasti apa yang di ukur kecuali kita tau sedang membandingkannya dengan apa.

desibel sebagai satuan intensitas suara dan bagaimana mengukurnya

electronics-decibel

Ini merupakan cara logarithmic  untuk menjelaskan rasio yang di ajukan oleh Bell Laboratories, Alexander Graham Bell’s Company, pada tahun 1924 sebagai cara mengukur hilangnya sinyal dalam sirkuit telepon. Satu desibel yaitu 1/10 (deci-) dari satu bel, sebagai penghormatan terhadap Alexander Graham Bell; akan tetapi bel jarang digunakan sekarang.

Sekarang, decibel digunakan secara luas dalam ilmu pengetahuan dan bidang teknik, dan utamanya di bidang akustik dan elektronika. Dalam dunia elektronika, ukuran gains dari amplifiers, attenuasi dari sinyal, dan signal-to-noise rasio paling sering menggunakan desibel.

desibel sebagai satuan intensitas suara dan bagaimana mengukurnya

Alexander Graham Bell

Sederhananya, ketika berpikir tentang bunyi dalam istilah riil, skala desibel memberitahu kita bahwa bila sebuah suara 10dB lebih kencang dibanding suara lainnya, berarti suara itu 10x lebih kencang, dengan peningkatan 20dB berarti 100x lebih kuat dan peningkatan 30dB berarti 1.000x lebih kencang. Dalam hal kekuatan suara, suara mesin jet pesawat 1 triliun lebih kuat bila dibandingkan ukuran paling rendah suara yang dapat di dengar manusia seperti gesekan kuku atau dedaunan.

desibel sebagai satuan intensitas suara dan bagaimana mengukurnya

dB. source : Physclips

Lalu dengan apa kita membandingkannya? Yaa, pastinya dengan tingkat sensitifitas kedua telinga kita. 0dB merupakan ambang batas (threshold) pendengaran manusia. Segala sesuatu dibawah itu tidak dapat didengar (inaudible), sedangkan di atas 85dB dalam jangka waktu yang panjang bakal menyebabkan hilangnya pendengaran. Dan manusia dapat membedakan perbedaan tiap level 1 dB.

Decibel - Audio

Decibel Level Infographic. Source : EarQ

Dalam kehidupan sehari – hari kita juga mengalami kalau intensitas suara bervariasi dalam jarak. Karena itu pengukuran dilakukan deket dengan sumber suara. Dan untuk suara, penggunaan desibel menjadi standar, karena hal ini berhubungan baik dengan bagaimana cara kita mendengar sesuatu. Persepsi manusia tentang intensitas suara dan cahaya lebih merupakan pada hubungan / intensitas logaritma dibanding pada hubungan linier. Itu kenapa skala dB menjadi alat ukur yang berguna.

Saat pendekatan manual hanya membutuhkan microphone dan kalkulator, namun untuk mengukur desibel secara tepat dan akurat membutuhkan beberapa peralatan. Dan cukup banyak variasi alat yang dapat digunakan di pasaran. Kebanyakan alat ukur dapat digunakan tergantung tujuannya, karakteristik suara yang mau di ukur, hingga informasi lainnya yang ingin dibutuhkan.

Decibel - Audio

Nti XL2 Analyzer. Source : Nti Audio

Sound level meter (SPL) meter, seperti XL2 dari NTi Audio dan Bruel & Kjaer’s terlihat sangat sederhana. Cukup arahkan bagian seperti tongkat yang merupakan microphone pada bagian atasnya untuk mengambil dan mengukur suara.  Bagian seperti tongkat ini berguna untuk menjauhkan microphone dari bagian rangka utama agar menghindari / memotong pantulan suara dan memberikan akurasi lebih baik. Dan pada bagian rangka utama, sirkuit elektronik memgukur suara yang terdeteksi oleh mic dan di kuatkan sinyalnya lalu menyaring dengan berbagai cara yang bervariasi sebelum ditampilkan pada layar LCD.

SPL meter sancta bervariasi bila dibedakan kualitasnya. Karena alesan ini biasanya produsen ternama biasanya memasarkan produk mereka berdasarkan kemampuan alat SPL meter untuk memenuhi standard internasional seperti IEC 60651, IEC 60804 dan ANSI S1.4 dan punya grade berdasarkan tipenya. SPL meter paling tinggi standarnya, disebut tipe 0. Tipe 1 sedikit kurang akurat, tapi masih cocok untuk digunakan pengukuran yang membutuhkan presisi cukup tinggi.

Sebagai tambahan, untuk mengukur intensitas sebuah suara dalam posisi yang tetap, seperti sebuah SPL meter, beberapa data dapat dimasukan ke dalam sebuah program (software) yang di desain untuk meng-ilustrasikan sebaran audio pada area tertentu. Hal ini umumnya digunakan pada saat mendesain instalasi sound system sebagai acuan untuk melihat seberapa efektif dan konsisten sebuah dan/ seperangkat loudspeaker meng-cover sebuah area dengan sebaran suaranya.

Decibel - Audio

EASE Focus. Source : AFMG, Germany

Sebagian besar produsen loudspeaker seperti d&b NoizCalc, L-Acoustics Soundvision, Meyer Sound MAPP, menawarkan software yang sengaja di desain untuk digunakan pada produk yang mereka jual. Atau software indipenden seperti Smaart atau EASE platform. Walaupun begitu, software ini hanya menyajikan sebuah gambaran dari tipikal besaran suara (SPL) dan sebaran (dispersion) pada area tertentu tanpa terlalu mengukur bagaimana suara itu dipantulkan dan/ di serap oleh permukaan yang ada.

Semoga bermanfaat ...
Jenis Headphone

Jenis Headphone | Bagaimana Memilih Yang Paling Tepat Sesuai Kebutuhan

Bagaimana memilih jenis headphone yang paling pas?

Jika ditanya ada bagaimana memilihnya, kita harus tahu berapa jenis headphone, apa perbedaan satu dengan yang lainnya dan mana yang terbaik.

Tentunya perlu penjelasan yang detail mengenai itu semua. Namun di sini hanya akan dijelaskan gambaran umum mengenai headphone dan mana yang sesuai untuk pemakaian sehari-hari sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Jenis – jenis Headphone

1. Earbuds Headphone

Jenis headphone ini paling umum dikenal sejak era Sony Walkman dan semakin popular ketika Iphone di rilis pertama kali.

 

jenis headphone

Earphone-Earbud-headphone

 

Earbuds ini sangat murah, kecil dan dengan kualitas suara cukup lumayan sesuai dengan harganya. Namun untuk kalangan audio enthusiast tentunya tidak disarankan karena beberapa alasan seperti suara / noise di luar yang masih terdengar ketika memakainya, tidak nyaman saat digunakan dan desain yang seadanya.

 

2. In-Ear Headphone

Headphone jenis ini biasanya disertakan oleh produsen smartphone beserta aksesories lain dalam kemasannya. Ringan sekitar 1-1.6 ons termasuk kabelnya.

Untuk sebagian besar consumer yang belum mendengar dan merasakan kualitas dari jenis headphone hi-fi, In-Ear Headphone ini cukup digemari.

Karena headphone jenis ini cukup nyaman digunakan dan lumayan mencegah suara dari luar seperti kicauan burung, derap langkah kaki, suara knaplot kendaraan bermotor, dan lainnya.

In-ear headphone biasanya dilengkapi dengan beberapa ukuran busa silikon baik ukuran small, medium dan large. Yang bisa disesuaikan mana yang paling pas buat kita.

 

Jenis Headphone

In-Ear Headphone

 

Jenis Headphone

In-Ear Headphone berfungsi sebagai penghalang masuknya suara dari luar (warna merah)

 

3. On-Ear Headphone

Headphone ini pas menutupi lubang telinga (ear canals), bukan menutupi keseluruhan telinga.

Biasanya dengan desain tertutup (closed back) dan dapat digunakan baik indoor maupun outdoor karena desainnya yang ringan / portable, beberapa bahkan dapat dilipat dan pastinya cukup nyaman ketika digunakan.

Untuk kualitas suara masih tidak sepenuhnya mencegah suara dari luar telinga masuk.

Dan biasanya terasa panas dan bahkan menyebabkan iritasi pada telinga bila digunakan terlalu lama.

 

Jenis Headphone

Bose On-Ear Headphone

 

4. Over-the-Ear Headphone

Headphone ini terlihat sangat besar bila dibandingkan jenis headphone yang lain. Hal ini karena desainnya yang menutupi seluruh bagian telinga.

Oleh karena itu biasanya digunakan untuk kegiatan indoor seperti di rumah, kantor, atau studio.

Kelebihan dari headphone jenis ini pastinya isolasi suara yang maksimal, kualitas suara yang mumpuni, bahkan mampu memberikan efek surround sound dan desainnya cukup kuat.

Sedangkan untuk kekurangannya harganya yang cukup mahal, desain yang besar sehingga hanya tidak portable karenanya hanya cocok digunakan dalam ruangan.

Over-the-Ear Headphone dibedakan menjadi dua jenis lagi yaitu :

  • Closed Back Headphone
  • Open Back Headphones

 

Closed Back Over-Ear Headphone

headphone ini paling popular karena kualitas suara yang dihasilkan dan banyak variasi baik dari segi desain juga harga apabila dibandingkan jenis Open Back over-Ear headphone.

Jenis ini dapat mencegah suara luar masuk—ambient noise isolation—dan pada saat yang sama menghindari kebocoran dari suara yang kita dengar.

Namun karena desainnya yang tertutup mengakibatkan mencegah aliran udara keluar-masuk ke dalam telinga yang agak menyebabkan telinga terasa berkeringat setelah penggunaan yang lama.

 

Jenis headphone

Over-Ear Headphone ATH-M50x

 

Open Back Over-Ear Headphone

Perbedaan paling mencolok dengan Closed Back Over-Ear Headphone yaitu desain pada bagian luar cangkangnya yang terbuka seperti grill jadi terlihat bagian dalam headphone.

Desain ini menyebabkan ambient noise dari luar dapat masuk ke dalam cangkang headphone.

Aliran udara yang bebas bergerak seakan menciptakan suara yang terdengar lebih hidup dan respon bass yang cukup baik.

Karena untuk menghasilkan kualitas bass yang solid headphone membutuhkan aliran udara dari luar.

Oleh karena ini semua headphone mempunyai semacam perforasi pada bagian dalam / belakang agar udara dapat bergerak keluar masuk.

Open Back Over-Ear biasanya digunakan di ruangan studio karena memiliki akustik ruangan yang cukup baik.

 

Jenis Headphone

Open Back Over-Ear Headphone – Sennheiser HD800 A3

 

5. In-Ear-Canal Headphone

Headphone ini digunakan masuk sampai bagian tengah / dalam lubang telinga. Suara yang terdengar dari headphone jenis ini langsung dekat dengan gendang telinga dan mengakibatkan keringat berlebihan.

 

Jenis Headphone

Struktur telinga

 

Jenis Headphone

etymotic mc3

 

Namun Kualitas bass—bass response—sangat bagus. Dan noise isolation juga sangat baik karena desainnya yang menyesuaikan lubang telinga hingga ke bagian dalam dekat gendang telinga.

Namun untuk beberapa orang headphone jenis ini terasa kurang nyaman digunakan dan tidak dapat digunakan terlalu lama. Dan harganya yang cukup mahal sesuai dengan kualitas suara yang dihasilkan.

 

6. Wireless Headphone

Wireless headphone menghubungkan berbagai perangkat seperti smartphone, stereo speaker, televisi, gaming console, computer dan beberapa perangkat electronic lainnya tanpa menggunakan kabel.

Teknologi ini bekerja dengan mengirimkan sinyal audio baik melalui sinyal radio frekuensi (RF) atau Infrared Frekuensi (IR). Tergantung jenis headphonenya.

Kedua teknologi wireless ini sama-sama bekerja melalui transmitter dan receiver system.

Wireless transmitter menghubungkan headphone ke perangkat yang merupakan audio source (smartphone, tv, etc), sedangkan receiver merupakan headphone itu sendiri (built in).

 

Jenis Headphone

Sony MDR ZX770BN

 

Banyak perangkat yang telah menggunakan teknologi Bluetooth menghubungkan keduanya bahkan beberapa perangkat sekaligus lebih mudah (user friendly).

Perangkat dengan teknologi Bluetooth bisa terhubung—mengirim dan menerima data—dengan jarak yang sangat dekat menggunakan transmisi radio.

Perangkat dengan teknologi Bluetooth memiliki semacam chip computer kecil yang didalamnya terdapat Bluetooth radio, dan software yang membuat konektivitas antar perangkat memungkinkan.

Jadi ketika perangkat seperti smartphone dengan headphone Bluetooth diaktifkan dan / dihubungkan (pairing) dengan jarak kedua perangkat yang cukup dekat, maka kita bisa berbicara atau mendengarkan musik tanpa kabel.

 

Jenis Headphone

Parameter

 

Menghubungkan jenis wireless headphone berbeda satu dengan yang lainnya tergantung perangkat apa yang digunakan.

Tapi begitu tahu caranya maka semuanya akan terasa lebih mudah.

Genelec

Audio Engineer | Let’s Get Closer

Subtle Art of Audio Engineer

[Based on wikipedia] An Audio Engineer, also called recording engineer, sound engineer, sound operator, sound technician, is a specialist in a skilled trade that deals with the use of machinery and equipment for the recording, mixing and reproduction of sounds.

The field draws on many artistic and vocational areas, including electronics, acoustics, psychoacoustics, and music.

An audio technician is proficient with different types of recording media, such as analog tape, digital multi-track recorders and workstations, and computer knowledge.

With the advent of the digital age, it is becoming more and more important for the audio engineer to be versed in the understanding of software and hardware integration from synchronization to analog to digital transfers.

Audio engineering concerns the creative and practical aspects of sounds including speech and music, as well as the development of new audio technologies and advancing scientific understanding of audible sound.

Audio engineering in contrast with the formal engineering discipline known as acoustical engineering.

Producer, engineer, mixer Phil Ek has described audio engineering as the “technical aspect of recording—the placing of microphones, the turning of pre-amp knobs, the setting of levels.”

The physical recording of any project is done by an engineer… the nuts and bolts.”

Many recording engineers also invented new technology, equipment and techniques, to enhance the process and art.

  1. ^ “Interview with Phil Ek”. HitQuarters. 25 May 2009. Retrieved Sep 3, 2010.
  2. ^ Daley, Dan, “The Engineers Who Changed Recording: Fathers Of Invention”, Sound on Sound magazine, October 2004

Audio engineers working in research and development may come from backgrounds such as acoustics, computer science, broadcast engineering, physics, acoustical engineering and electronics.

Audio engineering courses at university or college fall into two rough categories:

(1) training in the creative use of audio as a sound engineer, and

(2) training in science or engineering which then allows students to pursue a career developing audio technologies.

The second type of courses necessarily have the significant scientific and mathematical content needed to carry out research and development in audio engineering.

Audio engineers in research and development usually possess a bachelor’s degree or higher qualification in acoustics, physics, computer science or another engineering discipline.

They might work in acoustic consultancy, specializing in architectural acoustics.

Alternatively they might work in audio companies (e.g. headphone manufacturer), or other industries which need audio expertise (e.g. automobile manufacturer), or carry out research in a university.

Some positions, such as faculty (academic staff) require a Doctor of Philosophy.

In Germany a Toningenieur is an audio engineer who designs, builds and repairs audio systems.

 

wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Audio_engineer

How Loudspeakers Work?

How Loudspeaker work? Loudspeaker having a variety of shapes and sizes, allowing you to listen to music during a concert, or listen to sermons and religious ceremonies, listening to earphones / headphones on your iPod, enjoy a movie or hear a friend’s voice over the phone, etc.

To convert electrical signals into audible sound, loudspeaker contains an electromagnet: a metal coil creates a magnetic field when an electric current flows through it.

Loudspeaker Diagram, coil and magnetic

Loudspeaker Diagram, coil and magnetic

 

Loudspeaker parts :
1 . Cone
2 . Electromagnet ( coil )
3 . permanent magnet

 

 

 

 

 

On the loudspeaker, the electromagnet is placed in front of a permanent magnet. Permanent magnets will remain in the position-not moving while the electromagnet mobile. Since the electric current through the electromagnet coil, the magnetic field direction will change and there will be vibration due to tensile departure from the permanent magnet.

Electromagnet connected with Cone made ​​from flexible material that will reinforce this vibration, pumping sound waves into the surrounding air, and can be heard in your ear .

To reproduce all the different frequencies of sound, the best quality loudspeaker cones usually use different sizes depending on the frequency of high, medium or low .

Microphone uses the same mechanism with Loudspeaker in inverted condition to convert sound into electrical signals. In FACT, you can use a pair of headphones as a microphone ! ‘ve Ever tried ? ?

www.suaraproaudio.com
——————————————-

Public Address System

PUBLIC ADDRESS SYSTEM is a series of sound through electronic distribution system that covers input (mic), processor (amps) and output (speakers).

Usually PA System used one large public area to announce something, or as background music player or as evacuation system in case of unwanted things.

Small System

For small systems, used in a simple Public Address system, for example in the clinic, spa, small bar / cafe, small outlets, school auditoriums, places of worship, etc. For the inputs is usually coupled with a dvd / mp3 / ipod player to play music that can be heard throughout the area.

For amps, require a power that is tailored to the needs of the entire speaker system. And to the loudspeakers themselves are usually more simple, because it does not require a different zoning.

Public Address System Application

Suara Proaudio @Korean Cultural Center Indonesia

Large System

In theory, the use of Public Address System at a broader system would be more complicated because of the larger area. Suppose there are zones where certain areas hear the sound, while other areas do not want to hear the sound. The use of larger power amplifier because of the loudspeaker. Different area of ?? the different types of loudspeaker. Flow is more complicated cable installation. Arrangements with such complex systems is a more difficult task for an installer to simplify the system so that the system can be operated more easily.

Examples of the use of large systems in the Public Address System for campuses, schools, malls, buildings, factories, tourist area, sports area, etc..

 

Public Address System with the IP

If the Public Address system is constrained in its application or a different distance, Public Address System can use the Internet Protocol (IP). Suppose that in a complex enterprise, there are several different buildings, then to integrate the system can use the IP. So as to control the existing system can be done in the control room just separately control multiple systems in multiple buildings.

PA System with the IP

PA System with the IP

Large Venue System

Is the use of a sound system for music concerts. Will be discussed later because it will be different in the systems in the Public Address System.

Want to know more about the Public Address System? You can contact our System Specialist at solution@suaraproaudio.com

www.suaraproaudio.com