Free songs
  • RSS feed
  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
 
Tag Archives:

Microphone

Home » Microphone
wireless Microphone

5 Tips Yang Perlu Anda Tahu Dalam Memilih Wireless Microphone

Bagaimana wireless microphone bekerja dan apa keuntungannya

 

Wireless microphone bekerja dengan menghubungkan microphone unit (transmitter) dengan wireless receiver via radio frekuensi atau sinyal digital. Receiver dengan berbagai macam jenis dan bentuk.

Beberapa terhubung dengan konektor jack 3.5 mm dan menyalurkan suara yang datang dari microphone (transmitter) ke speaker / headphone. Sedangkan lainnya berada di atas meja, podium, dan terhubung ke sound system melalui kabel.

Bagaimana memilih wireless microphone

 

1. Budget—dengan banyaknya pilihan yang ada di pasar saat ini dan dengan range harga mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah memberikan banyak pilihan bagi anda untuk memilih mana yang paling sesuai dengan budget anda. Seberapa banyak anda mau mengeluarkan uang untuk mendapatkan microphone yang sesuai.

Pastinya, semakin tinggi anda invest dengan membeli wireless microphone, kualitas yang di dapatkan juga semakin bagus dan lebih tahan lama. Walaupun tidak dapat dipungkiri ada beberapa wireless microphone dengan harga rendah namun memiliki kualitas yang bagus.

 

2. Jumlah—banyak pembeli yang mencari wireless mic system dengan lebih dari satu unit dalam 1 set (2 handheld-microphone dengan 1 unit Receiver). Jika anda membutuhkan lebih dari 1 pembicara, wireless microphone system dengan 2 buah handhled-microphone tentunya akan lebih menguntungkan.

Namun untuk kualitas wireless microphone terbaik, single handheld dengan single receiver merupakan pilihan terbaik.

Dual Channel Handheld Wireless System

Dual Channel Handheld Wireless System Shure BLX288/PG58. Source : Shure.com

 

3. Jenis Wireless Microphone—kebanyakan orang menganggap wireless microphone sinonim dengan handheld atau tradisional mic panggung. Namun faktanya ada beberapa jenis wireless microphone (dalam hal ini, handheld microphone merupakan transmitter) yang perlu diketahui.

 

  • Handheld—tipikal tradisional microphone dengan transmitter yang menyatu dengan mic itu sendiri. Merupakan jenis microphone dengan reputasi mampu digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai kebutuhan aksi panggung, pidato, broadcast, karaoke dan lainnya.
Audio Technica

atw 2000a. Source : Audio Technica

  • Headset—seperti namanya tipikal jenis microphone ini digunakan di bagian kepala dengan fleksibilitas tinggi untuk disesuaikan dengan kbutuhan pengguna.
Wireless Microphone

Shure SM35 Headset Condensor. Source : shure.com

  • Lavalier—terkenal dengan sebutan Clip-On Mic atau microphone jepit. Digunakan apabila pengguna tidak mau ribet memegang handheld mic atau risih menggunakan headset mic. Lebih sering digunakan untuk kebutuhan speeches dan sangat tidak disarankan digunakan untuk kebutuhan aksi panggung seperti music performance atau instrument. Kecuali memang ada beberapa jenis lavalier yang khusus untuk kebutuhan instrument seperti saksofon dan sejenisnya.
Wireless Microphone

EW 112P G4 Sennheiser. Source : Sennheiser.com

 

4. Fungsi Penggunaan—akan terasa sedikit relative penting bila bicara mencari wireless mic yang tepat. Pertanyaan ini akan kembali pada pertanyaan jenis wireless mic apa seperti sebelumnya diutarakan di atas, dan juga berkorelasi dengan berapa jumlah mic yang dibutuhkan.

Penggunaan sangat penting ketika menentukan kebutuhan wireless mic system. Selain itu, kebutuhan jangkauan, kekuatan, sinyal wireless.

 

5. Analog vs Digital—analog menghubungkan microphone (transmitter) ke receiver via radio frekuensi. Sedangkan Digital receiver (yang pastinya lebih mahal) menggunakan sinyal yang biasanya tidak dapat terganggu (uninterrupted) seperti WiFi untuk mengirimkan suara.

Keduanya sama – sama akan bekerja dengan baik, tapi digital jelas memberikan keuntungan lebih, walaupun dengan harga jauh lebih tinggi. Namun selama penggunaan yang tepat wirelees mic system dengan analog sinyal selalu dapat di andalkan.

Wireless Microphone

Shure Axient Digital. Source : Shure.com

wireless microphone systems

5 Kesalahan Yang Perlu dihindari Saat Menggunakan Wireless Microphone

Wireless Microphone System

Menggunakan microphone wireless memang memberikan keleluasaan dan kemudahan  baik bagi penggunanya juga bagi crew sound system, namun apabila tidak memahami dasar bagaimana sebuah wireless system dan gelombang radio (RF) bekerja maka akan terjadi hal – hal seperti sinyal yang hilang (dropouts), interferensi dan distorsi.

Berikut 5 kesalahan yang umum terjadi ketika menggunakan microphone wireless, baik itu handheldmicrophone maupun in-ear monitoring system.

  1. Sinyal Terhalang

Menjaga jalur antara transmitter dan receiver antenna sebaik mungkin. Hindari benda logam, dinding, dan sejumlah orang (apalagi dalam jumlah banyak) antara antenna receiver dan transmitter pada microphone. Idealnya, reciver antenna sebaiknya berada pada ruangan yang sama dengan transmitter dan berada tanpa halangan. Karena tubuh manusia akan menyerap, menghalangi, menginterferensi dan memantulkan sinyal Radio Frekuensi (RF) yang dipancarkan transmitter mic wireless.

wireless microphone

Dropout signal

Selain itu apabila tangan menghalangi antenna external pada handheld transmitter pada microphone, maka efektivitas output akan berkurang sebanyak 50% atau lebih. Sama dengan itu, apabila fleksible antenna pada bodypack transmitter tertekuk atau terlipat, maka transmisi sinyal juga akan berkurang sangat signifikan.

  1. Kesalahan Jenis Antenna Atau Salah Penempatannya

Receiver antenna menjadi bagian yang paling sering salah dimengerti dalam penggunaan microphone wireless. Kesalahan seleksi antenna, penempatan, atau kabel bisa menyebabkan jangkauan yang jadi lebih pendek, dead spots pada area tertentu dan / sinyal yang lemah yang diterima pada reciver yang pada akhirnya menyebabkan gangguan. Walaupun teknologi semakin modern, akan tetapi antenna yang tepat juga harus tetap ditempatkan pada lokasi yang sesuai agar performanya tetap maksimal dan selalu dapat diandalkan.

Wireless Microphone

Source : shure.com

Untuk memastikan performa yang baik, jarak antar antenna paling sedikit ¼ dari panjang gelombang ( kira – kira 5 inchi pada 600MHz ). 1 panjang gelombang ( +/- 20 inchi pada 600 mHz) akan lebih baik. Antenna pada receiver sebaiknya di konfigurasi membentuk “V”, dimana akan memberikan daya tangkap yang lebih baik ketika transmitter bergerak dan tertangkap pada berbagai macam sudut.

Shure Directional Antenna

remote antenna. source : shure.com

Berusaha menjaga agar antenna sedekat mungkin dengan jalur transmitter. Antenna juga sangat spesifik frekuensi-band tertentu. jangan mencoba menggunakan antenna dari system lain tanpa double-checking frekuensi terlebih dahulu.

Jika receiver akan ditempatkan jauh dari area performance (di ruang operator atau rack tertutup) ½-wave antenna atau directional antenna sebaiknya dipasang terpisah (idealnya di atas audiens) agar frekuensi ke transmitter tidak terhalang. ¼-wave antenna sebaiknya jangan pernah di pasang terpisah (remotely mounted), karena membutuhkan receiver chassis sebagai ground plane.

Meningkatkan jarak antara berbagai antenna menjadi 1 panjang gelombang (sekitar 20 inch pada 600MHz) akan meningkatkan performa.  Lebih dari satu panjang gelombang, jarak ekstra antara antenna tidak akan meningkatkan performa frekuensi secara signifikan, akan tetapi memberikan jangkauan yang lebih baik pada panggung yang besar, tempat ibadah atau ruang meeting

wireless microphone

source : shure.com

Jika antenna akan ditempatkan jauh dari panggung, sebaiknya gunakan directional antenna untuk meningkatkan daya terima sinyal secara langsung dan sedikit dari sudut yang lain.Wireless Microphone

Jika antenna akan dihubungkan dengan receiver dengan kabel coaxial yang panjang, hubungkan amplifier antenna yang berguna untuk mengatasi sinyal loss pada kabel. Sedikit-banyaknya sinyal yang hilang tergantung dari panjang dan jenis kabel yang digunakan. Oleh karena itu ikuti rekomendasi dari pabrikan. Jumlah bersih (total less) sebaiknya tidak melebihi dari 5 dB.

wireless microphone

source : shure.com

  1. Set Up Frekuensi Yang Buruk.

Set up wireless frekuensi yang tepat harus memenuhi dua kriteria sebagai berikut :

  1. Frekuensi harus menghindari saluran TV lokal yang aktif
  2. Frekuensi harus saling kompatibel

Transmitter TV biasanya beroperasi pada power level 1 juta watts sedangkan wireless mic biasanya hanya 50mW atau kurang. Untuk melawan interferensi siaran tv, hindari menggunakan frekuensi tv lokal.

Disebut Lokal pada umumnya berjarak antara 50 – 60 mil, tergantung dari jangkauan transmitter tv dan pada lokasi di mana wireless microphone digunakan. Kabar baiknya penggunaan wireless microphone pada area indoor lebih sedikit beresiko bila dibandingkan penggunaan pada area outdoor karena struktur bangunan akan berfungsi sebagai penghalang sinyal tv.

Tidak Istilah Yang Namanya “Set And Forget”

wireless microphone

wireless microphone receiver. source : shure.com

Walaupun perangkat sound system tidak berpindah – pindah, radio frekuensi dapat berubah tanpa di duga. Walupun frekuensi stasiun tv selalu konstan, tapi jika terdapat wireless system lain dari perangkat lain di tempat atau interferensi dari resto / coffee shop terdekat—maka wireless frekuensi perlu di sesuaikan lagi. Yang terbaik dilakukan sound check sebelum digunakan. Itu kenapa koordinasi antar frekuensi sangat penting.

  1. Manajemen Baterai Yang Buruk

Walaupun kenyataannya baterai yang digunakan pada transmitter merupakan hal sangat penting dalam penggunaan wireless mic, tidak jarang pengguna menggunakan baterai murahan demi menghemat uang. Sebagian besar pabrikan mensyaratkan alkaline atau lithium baterai karena output voltase stabil dengan daya tahan baterai yang bagus. Ini sangat penting, karena transmitter akan mampu mengatasi distorsi suara atau sinyal yang menurun ketika voltase rendah. Baterai yang dapat di isi ulang (rechargeable battery) tampaknya solusi ideal, tapi kebanyakan hanya 20 persen dari daya maksimum walaupun dalam kondisi penuh.

Untuk mengatasi masalah baterai, hati – hati dalam membandingkan voltase transmitter yang dibutuhkan dengan output voltase pada baterai untuk menjamin baterai mampu bertahan sepanjang acara. Untuk penggunaan 9 Volt, jenis baterai lithium-ion akan bekerja ideal. Sedangkan jenis baterai Ni-Mh dan Ni-Cad hanya akan bertahan beberapa jam saja. Untuk penggunaan AA, Ni-Mh rechargeable battery menawarkan performa yang sama dengan sebuah baterai alkaline.

wireless microphone

source : shure.com

Penggunaan baterai isi ulang memang cara yang pas untuk menghemat uang selama mampu secara efektif mengaturnya. Selalu copot baterai dari transmitter setiap selesai digunakan. Ini akan mencegah baterai yang digunakan dalam kondisi yang tidak penuh dan juga mencegah kebocoran baterai yang akan merusak transmitter.

 

  1. Set Up Gain Yang Tidak Sesuai

Mengatur input gainmerupakan penyesuaian yang sangat penting pada microphone wireless. Distorsi akan terjadi apabila gaindi atur terlalu tinggi, dan signal-to-noiseburuk ketika gain di set up terlalu rendah. Sebagaian besar wireless system memiliki gain control pada transmitter. Hal ini akan membantu berpikir kalau gain control berfungsi sama sebagai “trim” atau “gain” pada mixer, yaitu bertujuan untuk mengatur sensitivitas input serendah mungkin untuk mencegah input overload atau “clipping” tapi cukup tinggi  di atas system noise floor.

Pengaturan pada gain pada transmitter wireless sama pada mixer input gain, yaitu atur gain control setinggi mungkin hingga tepat sebelum indikator nyala merah (peak atau overload). Untuk wireless system indikator ini biasanya pada receiver, sehingga perlu di cermati bagian depan reciver ketika digunakan. Jika indikator peak dan terus kedap kedip, kurangi gain pada transmitter hingga nyala pada indikator nyala atau kedap – kedip hanya sesekali. Jika lampu indikator tidak kedap – kedip, tingkatkan gain hingga hanya berkedip pada batas sebelum sinyal akan tinggi.

wireless microphone

sennheiser wireless microphone transmitter

Banyak wireless mic memiliki output level control pada receiver. Akan tetapi karena control ini hanya akan berpengaruh pada receiver output, maka itu tidak akan memiliki pengaturan gain yang sesuai pada transmitter. Oleh karena itu, jika terjadi distorsi atau signal-to-noise yang buruk pada transmitter, maka hal tersebut tidak dapat diperbaiki dengan merubah level receiver output. Sebagian besar profesional merekomendasikan membiarkan hal ini pada control maksimal. Selama input pada mixer mampu mengakomodasi level ini, keseluruhan system akan berjalan pada dynamic range sebaik mungkin.


Sumber : Shure Worldwide, Sennheiser electronic GmbH & Co

Audio Setup

4 Tips Sederhana Menghasilkan Kualitas Audio Yang Optimal Untuk Live Streaming

Banyak pertanyaan mengemuka saat kita berbicara apa dan bagaimana mempersiapkan (setup) audio yang optimal  untuk  live streaming ( vlogging, podcasting, webinar, etc ). Ketika membahas audio secara umum maka pilihannya tidak terbatas, dan artikel kali ini akan lebih berfokus kepada aspek audio, yaitu pemilihan dan penggunaan Microphone dan pendukungnya yang tepat pada saat live streaming.

Secara umum ada beberapa tips yang perlu dipertimbangkan agar presentasi efektif seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Namun kali ini hanya akan di bahas 4 tips sederhana menghasilkan kualitas audio yang optimal untuk live streaming tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

 

 

REKOMENDASI PERALATAN

Integrasi audio visual dan teknologi informasi  saat ini memberikan kemudahan  bagi kita dalam menentukan peralatan audio apa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan isi kantong kita. Namun di saat yang sama justru mendatangkan godaan bila kita tidak menetapkan batasan yang pas. Mulai dari perangkat seperti preamps, mixer, audio interfaces, dsb pilihannya tidak terbatas. Tanpa pengetahuan dan batasan yang jelas, kita akan sangat dengan mudah menghabiskan ratusan ribu bahkan s/d puluhan juta Rupiah hanya untuk Microphone.

Jadi saran saya tetapkan batasan, pilih dan coba. Terlalu banyak pilihan biasanya malah membuat kehilangan fokus pada tujuan presentasi / streaming, yaitu pesan tersampaikan dengan jelas. Jadi tetapkan apa yang ideal menurut style juga budget Anda.

Rekomendasi setup microphone paling dasar yaitu memberikan suara yang jernih  dan ‘warm’ tanpa ada gangguan paling tidak se-minimum mungkin dari suara latar yang tidak diinginkan. Yang kedua mudah digunakan, dan terakhir tidak menguras biaya.

Berikut panduan dasar setup audio untuk streaming :

1 Microphone

A. Tipe Microphone

B. Pola Diaphgram

C. Tipe Konektor

2.  Audio Interfaces

3. Aksesories

4. Lingkungan

 

  1. MICROPHONE

A. Tipe Microphone

 Semua microphone merupakan transducers, merubah suara menjadi sinyal electric. Dan yang paling umum digunakan untuk vocal yaitu Condenser dan Dynamic Microphone.

• Microphone Condensor

 

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Menggunakan daya kapasitor untuk menangkap sumber suara. Sangat sensitive dan biasa digunakan dalam studio karena memberikan suara lebih ‘warmer’ pada saat hasil rekaman. Dan membutuhkan -/+48v phantom power untuk digunakan, yang biasa di supplai oleh audio interface atau mixer. Kelebihan ini sekaligus juga memberikan kekurangan apabila digunakan pada ruangan yang secara akustik tidak ideal karena akan menangkap setiap suara yang terjangkau.

 

• Microphone Dynamic

 

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Microphone dynamic kebalikan dari cara kerja loudspeaker , yaitu menggunakan induksi magnetic untuk menangkap suara. Microphone jenis ini lebih kuat namun kurang sensitive dibandingkan microphone condensor. Penggunaanya tidak memerlukan extra power supply dan harus cukup dekat antara sumber suara dengan microphone. Itu kenapa lebih sering digunakan dalam live performance.

Sederhananya, jika membutuhkan akurasi dan kejernihan suara, microphone condensor lebih cocok digunakan. Bila ditambah dengan kondisi akustik ruangan dan penggunaan juga perawatan yang tepat akan memberikan hasil terbaik. Namun bukan berarti tipe microphone dynamic ‘haram’ digunakan pada streaming. Selain lebih murah, penggunaan yang tepat microphone dynamic dengan audio interface dan/ mixer yang memadai juga mampu menghasilkan suara yang baik.

 

B. Pola Microphone

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Figure no. 1

 

Microphone menangkap suara dengan pola yang berbeda – beda sesuai dengan fungsinya. Untuk vokal paling ideal pola cardiod ( bentuk hati—figure no. 1). Menangkap suara sangat direksional, yaitu suara yang keluar dari mulut sekaligus menolak suara dari samping dan belakang diaphgram microphone.

 

C. Konektor Microphone

Pertanyaan paling sering dikemukakan mana lebih baik microphone yang menggunakan XLR atau USB konektor? Pada dasarnya Microphone dengan XLR konektor jauh lebih ideal karena selain menjadi standar industri rekaman profesional, juga memberikan kemudahan dalam setting / adjustment hasil audio pada audio interface / mixer secara langsung dibandingkan mengotak – atik pada software di computer.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

XLR Microphone

Microphone dengan USB konektor lebih tepat bila dikatakan sebagai kompromi produsen Microphone dengan pasar consumer, di mana penggunaanya tinggal Plug n Play pada PC atau laptop. Saat ini kualitas Microphone dengan konektor USB pun semakin meningkat. Microphone AT2020USB plus dan Blue Yeti contohnya.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

USB Mic

Microphone USB bisa di bilang saat ini sudah memiliki nyaris semua kemampuan Microphone XLR, plus ditambah onboard sirkuit, power, dsb yang bagi vlogger pemula akan lebih mudah dan murah. Namun, untuk rencana jangka panjang, yang bisa memberikan ruang yang luas untuk upgrade, kemudahan dalam pengaturan dan menghasilkan kualitas suara yang ideal, maka Microphone dengan konektor XLR jauh lebih efektif dan efisien. Tapi semuanya balik lagi sangat tergantung pada kebutuhan dan budget masing – masing.

 

  1. AUDIO INTERFACES

Pada dasarnya audio interface merupakan external sound card dengan beberapa kelebihan seperti :

• Phantom power (+/- 48V) yang dibutuhkan Microphone XLR Condensor

• Memudahkan proses setting dan adjustment audio

• Memiliki pre-ampifier sehingga signal yang didapatkan microphone ideal. Semakin berkualitas • preamps, semakin baik kualitas suara yang dihasilkan.

• Merubah signal analog dari microphone menjadi signal digital agar dapat di proses PC / laptop.

• Mengurangi gangguan (interference) dari sirkuit internal pada computer sehingga mencegah signal mengganggu (noise).

• Upgradeable

Audio interfaces simple seperti Focusrite Scarlet 2i2 atau Presonus AudioBox USB atau budget Mixer seperti Yamaha MG10XU, Behringer Xenyx 802, hingga Mackie PROFX8V2 perlu dipertimbangkan.

 

3. AKSESORIS

Berikut beberapa aksesoris penting yang perlu dipertimbangkan untuk digunakan dengan Mic :

• Mic Arm / Stand  : Membantu fleksibilitas mic

• Shock Mount : Isolasi untuk mencegah getaran / goncangan pada mic.

• Pop Filter : Dibutuhkan bila merekam dengan posisi Mic dekat dengan mulut dan membantu  mencegah ledakan suara yang muncul akibat dampak mekanik dari udara yang bergerak cepat ke mic. Selain itu me-minimalisir efek plosive sound, dan juga menjaga kelembapan microphone sehingga lebih awet.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

 

4. LINGKUNGAN

Salah satu faktor paling penting namun paling sering dilupakan, yaitu kondisi lingkungan sekitar sangat mempengaruhi kualitas audio. Perangkat audio biasa saja dengan ruangan yang secara akustik ideal akan menghasilkan kualitas suara yang lebih baik dibandingkan perangkat High-End audio dengan akustik ruangan yang buruk.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Sangat penting untuk testing & adjusting pada saat penggunaan microphone di sebuah ruangan. Coba berbagai posisi microphone yang paling ideal. Perhatikan suara sekitar seperti kipas pada laptop, AC hingga bunyi keyboard komputer. Gunakan peredam untuk mengurangi ‘echo’ dari suara yang memantul pada ruangan. Penggunaan carpet di lantai atau menggantung tirai dari bahan yang menyerap suara akan sangat membantu. Pointnya, banyak cara mudah dan murah untuk membuat ruang lebih acoustic-friendly.

 

KESIMPULAN

Menghasilkan kualitas audio yang baik tidak seharusnya menjadi beban tersendiri, terutama bila baru memulai vlogging, podcasting, webinar atau live streaming lainnya. Segala sesuatunya tidak langsung harus seperti studio profesional. Yang lebih penting audiens dapat memahami pesan yang ingin disampaikan dengan sedikit mungkin gangguan.

Hal yang perlu terus – menerus dilakukan yaitu mengetes level audio, membuat ruangan secara akustik se-ideal mungkin, dan setup microphone sesuai dengan situasi dan kondisi yang dibutuhkan. Karena microphone akan terdengar berbeda  antara orang yang satu dengan orang yang lain dan di antara ruangan yang berbeda – beda. Microphone hanya merupakan alat dan membutuhkan perangkat yang berbeda – beda untuk situasi yang berbeda pula. Itu kenapa sangat penting anda riset dan berusaha mencari microphone yang paling sesuai dengan karakter vokal, kebutuhan dan lingkungan sekitar.

Membeli perangkat audio merupakan investasi dan selayaknya sebuah investasi memerlukan riset dan pencarian yang tepat.  Dengan jumlah informasi yang tersedia di internet, tidak ada alasan bagi anda untuk tidak menggunakannya. Mengetahui apa yang paling pas bagi anda dan dengan sumber informasi yang tepat merupakan keahlian yang penting tidak hanya sebagai seorang vlogger, podcaster, dan profesi lainnya, tetapi juga dalam hidup ini 🙂

 

Semoga bermanfaat dan apabila ada saran dan rekomendasi produk lain, please let us know …

Blue Yeti Microphone

Surprising Benefits of Blue Yeti USB Microphone

Review Blue Yeti USB Microphone

 

Bicara USB Microphone dengan banyak keunggulan rasanya tidak lengkap bila tidak menyertakan microphone ini. Seperti AT2020USB+Blue Yeti terkenal sebagai salah satu yang terbaik bagi siapa pun yang membutuhkan jenis Mic USB yang  mampu menangkap kebutuhan 16-bit/48 kHz, sehingga memiliki multi fungsi sangat mumpuni baik untuk rekaman maupun untuk streaming (vlogging, podcasting, gaming, conference calls).

 

Blue Yeti Microphone

Dengan teknologi tiga kapsul dan empat pola setingan yang dapat di kustomisasi (cardiod, omnidirectional, stereo, bi-directional) di desain untuk memberikan kualitas suara yang kaya dan detail. Sedangkan fitur volume headphone, instan mute, dan analog microphone gain memberikan keleluasaan dalam pengaturan dalam proses rekaman.

Dilengkapi juga dengan konektor 3.5mm headphone jack memudahkan dalam monitoring tanpa zero-latency / delay.  Kemudahan dalam penggunaannya juga memberikan nilai tambah bagi mic ini. Cukup di colok ke port USB pada komputer—minimum 64 MB RAM, dengan kabel USB yang telah tersedia, lalu kalibrasi dengan sistem operasi pada komputer (Windows 10, 8, 7, Vista, Xp dan Mac OS X 10.4.11 atau lebih), maka Si Yeti ini siap digunakan.

Blue Yeti MicrophoneMic ini juga memiliki fleksibilitas karena dapat di lipat, putar dan disesuaikan sesuai kebutuhan.  Tersedia dengan pilihan warna untuk disesuaikan dengan selera dan pastinya harga yang bersahabat menjadikan Blue Yeti sebagai microphone USB dengan segala keunggulan bila dibandingkan  dengan kompetitornya.

 

 

 

 

 

SPESIFIKASI TEKNIS

MICROPHONE AND PERFORMANCE :

  • Power Required/Consumption: 5V 150mA
  • Sample Rate: 48 kHz
  • Bit Rate: 16-bit
  • Capsules: 3 Blue-proprietary 14mm condenser capsules
  • Polar Patterns: Cardioid, Bidirectional, Omnidirectional, and Stereo
  • Frequency Response: 20Hz – 20kHz
  • Max SPL: 120dB (THD: 0.5% 1kHz)
  • Dimensions (extended in stand): 4.72″ (12cm) x 4.92″(12.5cm) x 11.61″(29.5cm)
  • Weight (microphone): 1.2 lbs. (.55 kg)
  • Weight (stand): 2.2 lbs. (1 kg)

 

HEADPHONE AMPLIFIER :

  • Impedance: 16 ohms
  • Power Output (RMS): 130 mW
  • THD: 0.009%
  • Frequency Response: 15 Hz – 22 kHz
  • Signal to Noise: 100dB

 

KEBUTUHAN SISTEM OPERASI

  • Windows 7, 8, 10
  • USB 1.1/2.0 (or newer)
  • 64MB RAM (or better)
  • MACINTOSH
  • Mac OSX (10.4.11 or higher)
  • USB 1.1/2.0
  • 64 MB RAM (minimum)

 

Nilai Plus :

  • THX certified model
  • Kualitas studio dengan suara detail dan kaya
  • 4 picking patterns termasuk mode stereo
  • User-Friendly ( Plug n Play )
  • headphone output
  • Solid full metal body
  • Harga bersahabat

 

Nilai Minus :

  • Ukuran mic di luar standar, menyulitkan mencari shock mount yang pas
  • Tombol Kontrol yang ringkih
Audio Technica AT2020USB+

Review Microphone Audio Technica AT2020USB Plus

Audio Technica AT2020USB+
Cardioid Condenser USB Microphone

 

Salah satu USB Mic cardiod condenser terbaik di kelasnya saat ini. AT2020USB+ melanjutkan keberhasilan seri legendaris AT2020USB sebagai budget Mic dengan kualitas telah teruji.

Walaupun lebih sering digunakan untuk penggunaan rekaman musik, AT2020USB plus juga sangat ideal mulai dari home recording, podcast, voice-over, atau bahkan rekaman outdoor. AT2020USB+ menutupi kekurangan pada seri sebelumnya dengan fitur headphone jack dengan volume control yang memungkinkan user monitoring mic tanpa delay.

 

Audio Technica AT2020USB+

AT2020USB+ juga memiliki mix control untuk menggabungkan signal mic dengan pre-recorded audio. Pickup pattern AT2020USB plus mempunyai off-axis rejection yang cukup bagus, dan dengan 16-bit A/D converter (dynamic range lebih dari 90dB), 44.1 1/48kHz sample rate sehingga menghasilkan reproduksi suara yang solid.

 

at2020usb plus accessories

 

 

 

Spesifikasi Teknis

  • ELEMENT : Fixed-charge back plate, permanently polarized condenser
  • POLAR PATTERN   : Cardioid
  • FREQ RESPONSE   : 20 – 20,000 Hz
  • POWER REQUIREMENTS  : USB Power (5V DC)
  • BIT DEPTH   : 16 bit
  • SAMPLE RATE   : 44.1/48 kHz
  • VOL CONTROL   : Mix control; Headphone volume control
  • WEIGHT   : 386 g (13.6 oz)
  • DIMENSIONS   : 162.0 mm (6.38″) long, 52.0 mm (2.05″) maximum body diameter
  • OUTPUT CONNECTOR  : USB-type
  • HEADPHONE OUTPUT POWER    : 130 mW (at 1 kHz, 10% T.H.D., 32 ohm load)
  • HEADPHONE JACK    : 3.5 mm (1/8″) TRS (stereo)
  • ACCESSORIES FURNISHED   : Pivoting stand mount for 5/8″-27 threaded stands; 5/8″-27 to 3/8″-16 threaded adapter; soft protective pouch; tripod desk stand; 10′ (3.1 m) USB cable

Nilai Plus :

  • Material kuat
  • Reproduksi suara yang solid
  • Frekuensi range lebar  (20 – 20kHz)
  • User-Friendly—plug & play Kompatibel dengan Windows 7, Vista, XP, 2000 and Mac OS X
  • Harga Bersahabat
  • Sudah termasuk : Pivoting stand mount for 5/8″-27 threaded stands; 5/8″-27 to 3/8″-16 threaded adapter; soft protective pouch; tripod desk stand; 10′ (3.1 m) USB cable

Nilai Minus

  • Tripod bundling ringkih

 

Audio Technica ATW 2120a

 2000 Series Frequency-agile True Diversity UHF Wireless Systems

audio-technica-logo

Audio-Technica’ s second-generation 2000 Series is a 10-channel frequency-agile UHF wireless system designed to suit a variety of applications, including MI/ live performance, fixed installation, public address, A/ V rental houses and places of worship. It offers all the advantages of a high-quality, professional wireless system at an extremely affordable price. New professional features include two available frequency bands and switchable antenna power. Also new to the 2000 Series, the optional ATW-CHG2 two-bay recharging station provides power to recharge NiMH batteries in two ATW-T220a handheld transmitters and/ or ATW-T210a UniPak® transmitters in any combination.

Audio Technica

atw 2000a. Source : Audio Technica

 

Features/Specifications:

Operating Frequencies:

  • UHF band
  • 840.000 – 865.000 MHz (F Band)
  • 795.000 – 820.000 MHz (E Band)
  • Number of Channels: 10 total
  • Frequency Stability: ±0.005%, Phase Lock Loop frequency control
  • Modulation Mode: FM
  • Normal Deviation: ±5 kHz
  • Operating Range: 100 m typical
  • Operating Temperature Range: 41° F (5° C) to 113° F (45° C)
  • Frequency Response: 100 Hz to 15 kHz

Receiver Specifications:

  • Receiving System: Dual independent receivers, automatic-switching diversity
  • Image Rejection: 55 dB nominal, 50 dB minimum
  • Signal-to-noise Ratio: >100 dB at 40 kHz deviation (A-weighted), maximum modulation 40 kHz
  • Total Harmonic Distortion: <=1% (10 kHz deviation at 1 kHz)
  • Sensitivity: 20 dBμV (S/N 60 dB at 5 kHz deviation, IEC-weighted)
  • Audio Output: Unbalanced:** 25 mV (at 1 kHz, ±5 kHz deviation, 100k ohm load)
  • Balanced: 12.5 mV (at 1 kHz, ±5 kHz deviation, 100k ohm load)
  • Output Connectors: Unbalanced: ¼” TS (“mono”) phone jack
  • Balanced: XLRM-type
  • Dimensions: 8.27″ (210.0 mm) W x 1.73″ (44.0 mm) Hx 6.39″ (162.2 mm) D
  • Accessories Included: Two flexible UHF antennas, rack-mount adapters, AC adapter

Microphone Specifications:

  • ATW-T220a Handheld Microphone Transmitter features PRO41 capsule for maximum feedback rejection and consistent sound. Tone Lock tone squelch system fights interference.
  • Rf Power Output: High: 30mW; Low: 10mW, nominal
  • Spurious Emissions: According to National Regulations
  • Microphone Element: Dynamic, unidirectional
  • Batteries: Two 1.5V AA alkaline or rechargeable AA NiMH (not included)
  • Current Consumption: 150 mA typical
  • Battery Life: Approximately 9 hours (low), 7 hours (high)
  • Dimensions: 229 mm long – 53.5 mm maximum diameter

Audio Technica AE4100

Cardioid Dynamic Handheld Microphone

 

Audio-Technica’ s high-performance AE4100 cardioid dynamic vocal microphone delivers aggressive sound that stays up-front in the mix. Optimized for the stage, the microphone features superior anti-shock engineering for minimum handling noise.

Audio Technica AE4100

Its rugged construction is engineered to stand up to the rigors of touring. For ultimate protection against vocal plosives, the mic’ s hardened-steel outer grille is lined with fine steel mesh and a layer of open-cell foam. A foam disk positioned on top of the element assembly provides the final layer of “ pop” protection.

Read more +