Free songs
  • RSS feed
  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
 
Tag Archives:

audio

Home » audio
wireless Microphone

5 Tips Yang Perlu Anda Tahu Dalam Memilih Wireless Microphone

Bagaimana wireless microphone bekerja dan apa keuntungannya

 

Wireless microphone bekerja dengan menghubungkan microphone unit (transmitter) dengan wireless receiver via radio frekuensi atau sinyal digital. Receiver dengan berbagai macam jenis dan bentuk.

Beberapa terhubung dengan konektor jack 3.5 mm dan menyalurkan suara yang datang dari microphone (transmitter) ke speaker / headphone. Sedangkan lainnya berada di atas meja, podium, dan terhubung ke sound system melalui kabel.

Bagaimana memilih wireless microphone

 

1. Budget—dengan banyaknya pilihan yang ada di pasar saat ini dan dengan range harga mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah memberikan banyak pilihan bagi anda untuk memilih mana yang paling sesuai dengan budget anda. Seberapa banyak anda mau mengeluarkan uang untuk mendapatkan microphone yang sesuai.

Pastinya, semakin tinggi anda invest dengan membeli wireless microphone, kualitas yang di dapatkan juga semakin bagus dan lebih tahan lama. Walaupun tidak dapat dipungkiri ada beberapa wireless microphone dengan harga rendah namun memiliki kualitas yang bagus.

 

2. Jumlah—banyak pembeli yang mencari wireless mic system dengan lebih dari satu unit dalam 1 set (2 handheld-microphone dengan 1 unit Receiver). Jika anda membutuhkan lebih dari 1 pembicara, wireless microphone system dengan 2 buah handhled-microphone tentunya akan lebih menguntungkan.

Namun untuk kualitas wireless microphone terbaik, single handheld dengan single receiver merupakan pilihan terbaik.

Dual Channel Handheld Wireless System

Dual Channel Handheld Wireless System Shure BLX288/PG58. Source : Shure.com

 

3. Jenis Wireless Microphone—kebanyakan orang menganggap wireless microphone sinonim dengan handheld atau tradisional mic panggung. Namun faktanya ada beberapa jenis wireless microphone (dalam hal ini, handheld microphone merupakan transmitter) yang perlu diketahui.

 

  • Handheld—tipikal tradisional microphone dengan transmitter yang menyatu dengan mic itu sendiri. Merupakan jenis microphone dengan reputasi mampu digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai kebutuhan aksi panggung, pidato, broadcast, karaoke dan lainnya.
Audio Technica

atw 2000a. Source : Audio Technica

  • Headset—seperti namanya tipikal jenis microphone ini digunakan di bagian kepala dengan fleksibilitas tinggi untuk disesuaikan dengan kbutuhan pengguna.
Wireless Microphone

Shure SM35 Headset Condensor. Source : shure.com

  • Lavalier—terkenal dengan sebutan Clip-On Mic atau microphone jepit. Digunakan apabila pengguna tidak mau ribet memegang handheld mic atau risih menggunakan headset mic. Lebih sering digunakan untuk kebutuhan speeches dan sangat tidak disarankan digunakan untuk kebutuhan aksi panggung seperti music performance atau instrument. Kecuali memang ada beberapa jenis lavalier yang khusus untuk kebutuhan instrument seperti saksofon dan sejenisnya.
Wireless Microphone

EW 112P G4 Sennheiser. Source : Sennheiser.com

 

4. Fungsi Penggunaan—akan terasa sedikit relative penting bila bicara mencari wireless mic yang tepat. Pertanyaan ini akan kembali pada pertanyaan jenis wireless mic apa seperti sebelumnya diutarakan di atas, dan juga berkorelasi dengan berapa jumlah mic yang dibutuhkan.

Penggunaan sangat penting ketika menentukan kebutuhan wireless mic system. Selain itu, kebutuhan jangkauan, kekuatan, sinyal wireless.

 

5. Analog vs Digital—analog menghubungkan microphone (transmitter) ke receiver via radio frekuensi. Sedangkan Digital receiver (yang pastinya lebih mahal) menggunakan sinyal yang biasanya tidak dapat terganggu (uninterrupted) seperti WiFi untuk mengirimkan suara.

Keduanya sama – sama akan bekerja dengan baik, tapi digital jelas memberikan keuntungan lebih, walaupun dengan harga jauh lebih tinggi. Namun selama penggunaan yang tepat wirelees mic system dengan analog sinyal selalu dapat di andalkan.

Wireless Microphone

Shure Axient Digital. Source : Shure.com

wireless microphone systems

5 Kesalahan Yang Perlu dihindari Saat Menggunakan Wireless Microphone

Wireless Microphone System

Menggunakan microphone wireless memang memberikan keleluasaan dan kemudahan  baik bagi penggunanya juga bagi crew sound system, namun apabila tidak memahami dasar bagaimana sebuah wireless system dan gelombang radio (RF) bekerja maka akan terjadi hal – hal seperti sinyal yang hilang (dropouts), interferensi dan distorsi.

Berikut 5 kesalahan yang umum terjadi ketika menggunakan microphone wireless, baik itu handheldmicrophone maupun in-ear monitoring system.

  1. Sinyal Terhalang

Menjaga jalur antara transmitter dan receiver antenna sebaik mungkin. Hindari benda logam, dinding, dan sejumlah orang (apalagi dalam jumlah banyak) antara antenna receiver dan transmitter pada microphone. Idealnya, reciver antenna sebaiknya berada pada ruangan yang sama dengan transmitter dan berada tanpa halangan. Karena tubuh manusia akan menyerap, menghalangi, menginterferensi dan memantulkan sinyal Radio Frekuensi (RF) yang dipancarkan transmitter mic wireless.

wireless microphone

Dropout signal

Selain itu apabila tangan menghalangi antenna external pada handheld transmitter pada microphone, maka efektivitas output akan berkurang sebanyak 50% atau lebih. Sama dengan itu, apabila fleksible antenna pada bodypack transmitter tertekuk atau terlipat, maka transmisi sinyal juga akan berkurang sangat signifikan.

  1. Kesalahan Jenis Antenna Atau Salah Penempatannya

Receiver antenna menjadi bagian yang paling sering salah dimengerti dalam penggunaan microphone wireless. Kesalahan seleksi antenna, penempatan, atau kabel bisa menyebabkan jangkauan yang jadi lebih pendek, dead spots pada area tertentu dan / sinyal yang lemah yang diterima pada reciver yang pada akhirnya menyebabkan gangguan. Walaupun teknologi semakin modern, akan tetapi antenna yang tepat juga harus tetap ditempatkan pada lokasi yang sesuai agar performanya tetap maksimal dan selalu dapat diandalkan.

Wireless Microphone

Source : shure.com

Untuk memastikan performa yang baik, jarak antar antenna paling sedikit ¼ dari panjang gelombang ( kira – kira 5 inchi pada 600MHz ). 1 panjang gelombang ( +/- 20 inchi pada 600 mHz) akan lebih baik. Antenna pada receiver sebaiknya di konfigurasi membentuk “V”, dimana akan memberikan daya tangkap yang lebih baik ketika transmitter bergerak dan tertangkap pada berbagai macam sudut.

Shure Directional Antenna

remote antenna. source : shure.com

Berusaha menjaga agar antenna sedekat mungkin dengan jalur transmitter. Antenna juga sangat spesifik frekuensi-band tertentu. jangan mencoba menggunakan antenna dari system lain tanpa double-checking frekuensi terlebih dahulu.

Jika receiver akan ditempatkan jauh dari area performance (di ruang operator atau rack tertutup) ½-wave antenna atau directional antenna sebaiknya dipasang terpisah (idealnya di atas audiens) agar frekuensi ke transmitter tidak terhalang. ¼-wave antenna sebaiknya jangan pernah di pasang terpisah (remotely mounted), karena membutuhkan receiver chassis sebagai ground plane.

Meningkatkan jarak antara berbagai antenna menjadi 1 panjang gelombang (sekitar 20 inch pada 600MHz) akan meningkatkan performa.  Lebih dari satu panjang gelombang, jarak ekstra antara antenna tidak akan meningkatkan performa frekuensi secara signifikan, akan tetapi memberikan jangkauan yang lebih baik pada panggung yang besar, tempat ibadah atau ruang meeting

wireless microphone

source : shure.com

Jika antenna akan ditempatkan jauh dari panggung, sebaiknya gunakan directional antenna untuk meningkatkan daya terima sinyal secara langsung dan sedikit dari sudut yang lain.Wireless Microphone

Jika antenna akan dihubungkan dengan receiver dengan kabel coaxial yang panjang, hubungkan amplifier antenna yang berguna untuk mengatasi sinyal loss pada kabel. Sedikit-banyaknya sinyal yang hilang tergantung dari panjang dan jenis kabel yang digunakan. Oleh karena itu ikuti rekomendasi dari pabrikan. Jumlah bersih (total less) sebaiknya tidak melebihi dari 5 dB.

wireless microphone

source : shure.com

  1. Set Up Frekuensi Yang Buruk.

Set up wireless frekuensi yang tepat harus memenuhi dua kriteria sebagai berikut :

  1. Frekuensi harus menghindari saluran TV lokal yang aktif
  2. Frekuensi harus saling kompatibel

Transmitter TV biasanya beroperasi pada power level 1 juta watts sedangkan wireless mic biasanya hanya 50mW atau kurang. Untuk melawan interferensi siaran tv, hindari menggunakan frekuensi tv lokal.

Disebut Lokal pada umumnya berjarak antara 50 – 60 mil, tergantung dari jangkauan transmitter tv dan pada lokasi di mana wireless microphone digunakan. Kabar baiknya penggunaan wireless microphone pada area indoor lebih sedikit beresiko bila dibandingkan penggunaan pada area outdoor karena struktur bangunan akan berfungsi sebagai penghalang sinyal tv.

Tidak Istilah Yang Namanya “Set And Forget”

wireless microphone

wireless microphone receiver. source : shure.com

Walaupun perangkat sound system tidak berpindah – pindah, radio frekuensi dapat berubah tanpa di duga. Walupun frekuensi stasiun tv selalu konstan, tapi jika terdapat wireless system lain dari perangkat lain di tempat atau interferensi dari resto / coffee shop terdekat—maka wireless frekuensi perlu di sesuaikan lagi. Yang terbaik dilakukan sound check sebelum digunakan. Itu kenapa koordinasi antar frekuensi sangat penting.

  1. Manajemen Baterai Yang Buruk

Walaupun kenyataannya baterai yang digunakan pada transmitter merupakan hal sangat penting dalam penggunaan wireless mic, tidak jarang pengguna menggunakan baterai murahan demi menghemat uang. Sebagian besar pabrikan mensyaratkan alkaline atau lithium baterai karena output voltase stabil dengan daya tahan baterai yang bagus. Ini sangat penting, karena transmitter akan mampu mengatasi distorsi suara atau sinyal yang menurun ketika voltase rendah. Baterai yang dapat di isi ulang (rechargeable battery) tampaknya solusi ideal, tapi kebanyakan hanya 20 persen dari daya maksimum walaupun dalam kondisi penuh.

Untuk mengatasi masalah baterai, hati – hati dalam membandingkan voltase transmitter yang dibutuhkan dengan output voltase pada baterai untuk menjamin baterai mampu bertahan sepanjang acara. Untuk penggunaan 9 Volt, jenis baterai lithium-ion akan bekerja ideal. Sedangkan jenis baterai Ni-Mh dan Ni-Cad hanya akan bertahan beberapa jam saja. Untuk penggunaan AA, Ni-Mh rechargeable battery menawarkan performa yang sama dengan sebuah baterai alkaline.

wireless microphone

source : shure.com

Penggunaan baterai isi ulang memang cara yang pas untuk menghemat uang selama mampu secara efektif mengaturnya. Selalu copot baterai dari transmitter setiap selesai digunakan. Ini akan mencegah baterai yang digunakan dalam kondisi yang tidak penuh dan juga mencegah kebocoran baterai yang akan merusak transmitter.

 

  1. Set Up Gain Yang Tidak Sesuai

Mengatur input gainmerupakan penyesuaian yang sangat penting pada microphone wireless. Distorsi akan terjadi apabila gaindi atur terlalu tinggi, dan signal-to-noiseburuk ketika gain di set up terlalu rendah. Sebagaian besar wireless system memiliki gain control pada transmitter. Hal ini akan membantu berpikir kalau gain control berfungsi sama sebagai “trim” atau “gain” pada mixer, yaitu bertujuan untuk mengatur sensitivitas input serendah mungkin untuk mencegah input overload atau “clipping” tapi cukup tinggi  di atas system noise floor.

Pengaturan pada gain pada transmitter wireless sama pada mixer input gain, yaitu atur gain control setinggi mungkin hingga tepat sebelum indikator nyala merah (peak atau overload). Untuk wireless system indikator ini biasanya pada receiver, sehingga perlu di cermati bagian depan reciver ketika digunakan. Jika indikator peak dan terus kedap kedip, kurangi gain pada transmitter hingga nyala pada indikator nyala atau kedap – kedip hanya sesekali. Jika lampu indikator tidak kedap – kedip, tingkatkan gain hingga hanya berkedip pada batas sebelum sinyal akan tinggi.

wireless microphone

sennheiser wireless microphone transmitter

Banyak wireless mic memiliki output level control pada receiver. Akan tetapi karena control ini hanya akan berpengaruh pada receiver output, maka itu tidak akan memiliki pengaturan gain yang sesuai pada transmitter. Oleh karena itu, jika terjadi distorsi atau signal-to-noise yang buruk pada transmitter, maka hal tersebut tidak dapat diperbaiki dengan merubah level receiver output. Sebagian besar profesional merekomendasikan membiarkan hal ini pada control maksimal. Selama input pada mixer mampu mengakomodasi level ini, keseluruhan system akan berjalan pada dynamic range sebaik mungkin.


Sumber : Shure Worldwide, Sennheiser electronic GmbH & Co

Desibel Sound

Apa yang dimaksud dengan desibel dan bagaimana mengukurnya?

Suara di ukur dalam satuan unit desibel, tapi apa sebenarnya desibel?

 

Desibel biasa disingkat dB, merupakan satuan unit dari intensitas suara, akan tetapi skala untuk mengukurnya, skala desibel, bisa dibilang agak sedikit aneh. Hal pertama yang perlu disadari kalau desibel tidak se-konvensional satuan seperti meter, kilogram, atau detik (second).

Desibel ukuran spesifik. Kalau kita tau berapa meter (sesuatu) maka kita bisa memperkirakan seberapa jauh itu. Akan tetapi desibel merupakan cara membandingkan dua jumlah yang berbeda. Kurang lebih seperti persentase, desibel tidak ‘menggambarkan’ secara pasti apa yang di ukur kecuali kita tau sedang membandingkannya dengan apa.

desibel sebagai satuan intensitas suara dan bagaimana mengukurnya

electronics-decibel

Ini merupakan cara logarithmic  untuk menjelaskan rasio yang di ajukan oleh Bell Laboratories, Alexander Graham Bell’s Company, pada tahun 1924 sebagai cara mengukur hilangnya sinyal dalam sirkuit telepon. Satu desibel yaitu 1/10 (deci-) dari satu bel, sebagai penghormatan terhadap Alexander Graham Bell; akan tetapi bel jarang digunakan sekarang.

Sekarang, decibel digunakan secara luas dalam ilmu pengetahuan dan bidang teknik, dan utamanya di bidang akustik dan elektronika. Dalam dunia elektronika, ukuran gains dari amplifiers, attenuasi dari sinyal, dan signal-to-noise rasio paling sering menggunakan desibel.

desibel sebagai satuan intensitas suara dan bagaimana mengukurnya

Alexander Graham Bell

Sederhananya, ketika berpikir tentang bunyi dalam istilah riil, skala desibel memberitahu kita bahwa bila sebuah suara 10dB lebih kencang dibanding suara lainnya, berarti suara itu 10x lebih kencang, dengan peningkatan 20dB berarti 100x lebih kuat dan peningkatan 30dB berarti 1.000x lebih kencang. Dalam hal kekuatan suara, suara mesin jet pesawat 1 triliun lebih kuat bila dibandingkan ukuran paling rendah suara yang dapat di dengar manusia seperti gesekan kuku atau dedaunan.

desibel sebagai satuan intensitas suara dan bagaimana mengukurnya

dB. source : Physclips

Lalu dengan apa kita membandingkannya? Yaa, pastinya dengan tingkat sensitifitas kedua telinga kita. 0dB merupakan ambang batas (threshold) pendengaran manusia. Segala sesuatu dibawah itu tidak dapat didengar (inaudible), sedangkan di atas 85dB dalam jangka waktu yang panjang bakal menyebabkan hilangnya pendengaran. Dan manusia dapat membedakan perbedaan tiap level 1 dB.

Decibel - Audio

Decibel Level Infographic. Source : EarQ

Dalam kehidupan sehari – hari kita juga mengalami kalau intensitas suara bervariasi dalam jarak. Karena itu pengukuran dilakukan deket dengan sumber suara. Dan untuk suara, penggunaan desibel menjadi standar, karena hal ini berhubungan baik dengan bagaimana cara kita mendengar sesuatu. Persepsi manusia tentang intensitas suara dan cahaya lebih merupakan pada hubungan / intensitas logaritma dibanding pada hubungan linier. Itu kenapa skala dB menjadi alat ukur yang berguna.

Saat pendekatan manual hanya membutuhkan microphone dan kalkulator, namun untuk mengukur desibel secara tepat dan akurat membutuhkan beberapa peralatan. Dan cukup banyak variasi alat yang dapat digunakan di pasaran. Kebanyakan alat ukur dapat digunakan tergantung tujuannya, karakteristik suara yang mau di ukur, hingga informasi lainnya yang ingin dibutuhkan.

Decibel - Audio

Nti XL2 Analyzer. Source : Nti Audio

Sound level meter (SPL) meter, seperti XL2 dari NTi Audio dan Bruel & Kjaer’s terlihat sangat sederhana. Cukup arahkan bagian seperti tongkat yang merupakan microphone pada bagian atasnya untuk mengambil dan mengukur suara.  Bagian seperti tongkat ini berguna untuk menjauhkan microphone dari bagian rangka utama agar menghindari / memotong pantulan suara dan memberikan akurasi lebih baik. Dan pada bagian rangka utama, sirkuit elektronik memgukur suara yang terdeteksi oleh mic dan di kuatkan sinyalnya lalu menyaring dengan berbagai cara yang bervariasi sebelum ditampilkan pada layar LCD.

SPL meter sancta bervariasi bila dibedakan kualitasnya. Karena alesan ini biasanya produsen ternama biasanya memasarkan produk mereka berdasarkan kemampuan alat SPL meter untuk memenuhi standard internasional seperti IEC 60651, IEC 60804 dan ANSI S1.4 dan punya grade berdasarkan tipenya. SPL meter paling tinggi standarnya, disebut tipe 0. Tipe 1 sedikit kurang akurat, tapi masih cocok untuk digunakan pengukuran yang membutuhkan presisi cukup tinggi.

Sebagai tambahan, untuk mengukur intensitas sebuah suara dalam posisi yang tetap, seperti sebuah SPL meter, beberapa data dapat dimasukan ke dalam sebuah program (software) yang di desain untuk meng-ilustrasikan sebaran audio pada area tertentu. Hal ini umumnya digunakan pada saat mendesain instalasi sound system sebagai acuan untuk melihat seberapa efektif dan konsisten sebuah dan/ seperangkat loudspeaker meng-cover sebuah area dengan sebaran suaranya.

Decibel - Audio

EASE Focus. Source : AFMG, Germany

Sebagian besar produsen loudspeaker seperti d&b NoizCalc, L-Acoustics Soundvision, Meyer Sound MAPP, menawarkan software yang sengaja di desain untuk digunakan pada produk yang mereka jual. Atau software indipenden seperti Smaart atau EASE platform. Walaupun begitu, software ini hanya menyajikan sebuah gambaran dari tipikal besaran suara (SPL) dan sebaran (dispersion) pada area tertentu tanpa terlalu mengukur bagaimana suara itu dipantulkan dan/ di serap oleh permukaan yang ada.

Semoga bermanfaat ...
8 Mitos Tentang Headphone Yang Perlu Diketahui

8 Mitos Tentang Headphone Yang Perlu Diketahui

Saat teknologi melengkapi bahkan membentuk gaya hidup, headphone pun menjadi kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dan menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat millenial.

 

lifestyle Headphone

Amber Marie Barker with Audio Technica ATH-SR5 Headphone. Source : ambermariebarker.com

Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup—lifestyle dalam beberapa tahun belakangan mendongkrak popularitas headphone ke arah yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.  Hal ini juga yang mendorong semakin banyak perusahaan terjun ke pasar ini.  Baik yang udah eksis sampai perusahaan yang bner – bner baru.

Semakin kesini jumlah dan jenis headphone makin gak karuan dan efeknya mitos – mitos tentang headphone datang tanpa diketahui yang mana kebenerannya, sehingga menggoyahkan keteguhan iman jiwa – jiwa yang rapuh. 👼

Konsumen semakin dibuat bingung dengan segala macem retorika pemasaran, dengan tujuan agar konsumen gak segan – segan keluar duit lebih banyak, bahkan juga sering lebih sedikit (murah-an) dibandingkan yang seharusnya, tanpa tau kualitasnya, namun pada akhirnya lebih sering dikecewakan.

Sebenarnya tanpa dipengaruhi jumlah propaganda pemasaran yang massif pun, banyak mitos timbul ketika kaitannya dengan banyaknya aspek soal headphone.

Berikut 8 Mitos Tentang Headphone Yang perlu diketahui :

  1. Headphone Bermerek Pasti Lebih Bagus

“Kata siapa?” Gak mesti selalu dan di pukul rata kok. Jangan mentang – mentang bermerk trus bisa dibilang pasti semuanya bagus.  Tapi yang pasti brand ternama punya anggaran lebih banyak untuk pemasaran sehingga penetrasi pasar yang merajalela.

Sebagai contoh lebih banyak headphone yang lebih bagus bila dibanding Beats yang sangat mempesona.  Bagi yang bukan pecinta audiophile, jarang yang tau ada perusahaan yang bikin headphone gokil kaya HIFIMAN, STAX, AUDEZE, dan lainnya.

Hi Fi Headphone

Audeze LCD-3. Source : Audeze

  1. Headphone Lebih Mahal Pasti Lebih Bagus Dan Lebih Tahan Lama

Ada harga ada rupa. Idiom beken ini kemungkinan gak berlaku mentah – mentah juga. Bisa dibilang korelasinya gak banyak juga. Kata “pasti” dan “selalu” kedengaran terlalu absolut. Yang lebih mahal pasti lebih bagus, “biasanya” iya, tapi gak selalu juga.

Banyak yang headphone murah tapi punya material gak murahan dan sebaliknya ada headphone mahal, tapi di liatnya aja bikin ngilu, rapuh, lemah kaya abis di putusin pacar. Literally banyak juga kok headphone which is punya design boring gak update, and cheaper, but sound amazing dibanding sama well designed expensive headphone (anak jaksel). 😀

Selain itu, seperti dijelaskan di bahasan Apakah Anda Rela Kehilangan Uang Demi Kualitas Suara Yang Bias?, selera pribadi dan faktor psikologis—subyektifitas, menjadi salah satu alasan bahwa gak semua headphone ber-merk dan lebih mahal pasti bakal cocok dengan semua orang.

  1. Semua Headphone Pasti Terdengar Sama

Idealnya iya. Klo kita hidup di alam utopia dimana tiap produsen headphone memakai tolok ukur yang sama soal akurasi suara. Kenyataannya gak sama sekali. Beda antara headphone yang satu dengan yang lain oleh orang awam sekalipun pasti terdengar jelas. Dalam beberapa jenis headphone memang ada yang susah dibedain, tapi itu langka banget bakal kejadian. Bahkan di headphone murah pun, perbedaannya cukup banyak.

  1. Tiap Bentuk Dan Design Headphone Pasti Pas Di Semua Orang

Pastinya gak juga. Kuping tiap orang bisa dibilang kaya sidik jari yang pastinya jadi beda satu sama lain. Dan yang utama klo ukurannya gak pas, apalgi in-ear headphone, walaupun headphone yang bener – bener bagus dan mahal, jadi percuma karena bakal gak kedengaran maksimal.

8 Mitos Tentang Headphone Yang Perlu Diketahui

Struktur Telinga. Source : visualdictionaryonline.com

 

  1. Semua Headphone Punya Volume Yang Sama

Walaupun kedengerannya gak jadi masalah, tapi yang perlu di ketahui klo ada beberapa headphone yang nyaman didengerin saat volume pada player cuma 50% tapi ada yang baru enak pas volume udh hampir mentok. Hal ini dipengaruhi faktor efisiensi sebuah headphone.

  1. Yang Namanya Noise-Cancelling Headphone Bikin Semua Suara Diluar Lenyap Seketika

Sedihnya, gak juga tuhh. Mengurangi sebagian besar frekuensi rendah dan suara bising kaya suara derungan mesin, angin dan jalanan memang bner. Tapi gak ngaruh buat frekuensi tinggi seperti suara bocah  jerit, bayi nangis atau suara pembicaraan orang sekitar.

noise cancelling headphone

Noise Cancelling Headphone Work. Source : afd-techtalk.com

  1. Semua Noise-Cancelling Headphone Sama

Pastinya gak lagi. Gak cuma karena iklannya banyak, designnya kliatan bagus apalagi harganya mahal jadi bikin noise cancelling-nya sempurna paripurna. Kebanyakan malah gak karuan.

Dalam hal ini produk ternama seperti Bose jadi salah satu yang terbaik karena inovasi dan paten teknologi noise cancelling-nya yang makin canggih. Atau Sony yang punya chip khusus noise cancelling.

sony headphone

Sony Noise Cancelling Chip. Source : Sony

  1. Noise-Cancelling Dan Noise Isolating Headphone Fungsinya Sama

Dengan jelas saya katakan, “Tidak.” Sederhananya, noise cancelling headphone kerjanya khusus frekuensi rendah dan konsisten kaya suara mesin pesawat, deru angin, jalanan macet. Sedangkan noise isolating headphone bekerja ideal (mengurangi) frekuensi mid dan high. Jadi agan/aganwati jangan sampai salah pilih.

Semoga bermanfaat.

surround bluetooth speaker

Apakah Anda Rela Kehilangan Uang Demi Kualitas Suara Yang Bias?

Sejumlah alasan kebanyakan pembeli headphone dan speaker lebih memilih produk yang tidak terdengar akurat namun lebih kepada kualitas suara yang bias.

 

Popularitas produk seperti soundbars, iPod dock, dan Bluetooth speaker yang semakin kecil ukurannya, semakin men – shahihkan fakta bahwa sebagian besar konsumen tidak terlalu tertarik untuk membeli perangkat audio yang benar – benar memberikan kualitas suara terbaik. Faktor lainnya, seperti ukuran yang kompak sehingga mudah di bawa – bawa (portable) dan dengan sejumlah fitur – fitur anyar, lebih di utamakan bila dibandingkan dengan kualitas suara yang akurat.

alasan pembeli headphone dan loudspeaker memilih produk terdengar tidak akurat

soundbars & iPod Docks

Format audio digital, contohnya, mungkin lebih memiliki respon frekuensi akurat dibandingkan format audio analog. Tapi Piringan hitam—Long Playing (LP/vinyl record) jauh terdengar lebih baik dibandingkan CD. Merekam suara lebih baik, terdengar lebih hidup dan realistis dibandingkan segala jenis format audio digital. Tapi balik lagi, tiap orang mungkin punya ‘selera’ yang berbeda.

alasan pembeli headphone dan loudspeaker memilih produk terdengar tidak akurat

Bob Dylan : Blonde on Blonde Vinyl (Mono) 2LP. Source : Turntable Lab Inc.

Orang menganggap headphone sesuatu yang berbeda dengan speaker, tapi kebanyakan lebih memilih suara yang lebih nge-bass dibanding “flat”, atau model perangkat audio lainnya yang lebih terdengar akurat.

Ketika membandingkan suara yang dihasilkan headphone, anda mengharapkan bahwa semua jenis headphone terdengar sama akurat. Tapi itu bukan masalahnya. Baik Sennheiser dan Audio Technica sama – sama produsen headphone terkemuka dengan reputasi mentereng selama puluhan tahun.

Akan tetapi jika akurasi suara tujuan utamanya, maka semua produk headphone high – end, dari semua produsen headphone, harusnya terdengar sama. Namun kenyataannya sangat berbeda. Sennheiser HD 700 terdengar cukup berbeda dengan Audio Technica ATH – M70x.

sennheiser headphone

Sennheiser HD 700. Source : tonepublications.com

Bahkan Audio Technica memiliki berbagai jenis headphone dengan kebutuhan / selera pasar yang berbeda – beda. ATH – M50x untuk professional monitor headphone dan ATH-WS1100iS dengan karakter sangat nendang frekuensi bassnya. Bahkan untuk Beats Solo3 Wireless headphone terkenal dengan headphone paling stylish—yang sama sekali saya gak ngerti apa hubungannya dengan detail suara 😕.

Beats Headphone

Beats Solo3 Wireless. Source : Apple–Beats Audio

Paling tidak ada sejumlah alasan kenapa tolok ukur akurasi suara ini gagal menghubungkan dengan penilaian akan kualitas suara. Pertama, tolak ukur sangat sedikit berhubungan dengan suara dari sebuah musik, dan headphone dengan tolak ukur kualitas suara yang lebih baik tidak selalu berhubungan dengan preferensi kualitas suara kebanyakan pengguna.

Tes tones terlalu sederhana dan mudah diprediksi, sedangkan musik terlalu kompleks dan acak. Mereproduksi suara yang riil dari sebuah violin atau drum kit merupakan tugas yang sangat sulit. Dan sejak tujuan utama perangkat audio hi – fi memainkan musik bukan tes tones, maka prioritas utama seorang perancang yaitu membuat produk yang terdengar enak sesuai segmen pasar yang ditujunya.

“Suara enak” jadi kata yang langka bila dihadapkan pada subjektivitas tiap orang. Bagi beberapa pengguna tolok ukur / spesifikasi pada headphone digunakan sebagai langkah obyektif untuk menentukan headphone mana yang lebih akurat.

Dan jika akurasi atau detail suara yang jadi patokannya, maka Etymotic ER-4PT in-ear headphone, yang harganya jauh lebih murah dibandingkan Sennheiser HD 700, seharusnya laku keras di pasaran. Tapi ironisnya hal ini tidak terjadi. Kebanyakan pembeli lebih menginginkan karakter headphone yang lebih nge-bass, lebih nendang, lebih stylish, dan sensasi subyektif lainnya.

in-ear headphone

Etymotic ER-4PT. Source : head-fi.org

Dan menjadi dilemma lainnya ketika kualitas audio musik yang sering kita dengarkan sudah mengalami kompresi yang juga sangat over, sehingga tidak akan secara otomatis musik tersebut akan terdengar lebih baik pada hi – fi headphone. Hal ini sama saja seperti mengharapkan film animasi akan terlihat nyata dan lebih realistis pada HD – TV. Tentunya hal tersebut tidak akan pernah terjadi.

Bisa dibilang semua produsen tunduk dan patuh pada tolok ukur yang dipakai dalam membuat produk – produk yang akurat. Akan tetapi mereka juga sadar kalau produk tersebut tidak laku di pasaran.

Mungkin karena itu konsumen ingin jaminan kalau produk yang akan mereka beli akurat. Tapi semuanya jadi gak ada artinya, kosong, hilang makna, ketika kebanyakan para konsumen menggunakan produk tersebut lalu mendengar seperti apa yang dimaksud kualitas suara yang detail, akurat. Namun tidak sesuai dengan ‘ekspektasi’ mereka.

Like a legend said :

“I put one on the turntable and when the needle dropped, I was stunned – didn’t know whether I was stoned or straight.”

—Bob Dylan

 

Audio Technica

Yang Perlu Anda Tahu Tentang Istilah dalam Audio Dan Hubungannya Dengan Karakter Headphone Dan Loudspeaker

Bagaimana otak memainkan peranan sangat penting dalam memilah dan memilih karakter suara pada perangkat audio yang sesuai dengan preferensi tiap orang. Dan memanfaatkan sebagai cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai.

 

“Terasa gak klo nih headphone karakternya kebangetan “bright”? Jadi lama – lama bikin kuping sakit?”

“Gw sih lebih milih karakter headphone yang “warm”?”

Buat yang baru mulai atau bahkan udah engeh audio, istilah kata “bright”, “warm” di atas pasti sudah cukup familiar di dengar. Nah yang jadi pertanyaan, apa arti sebenernya istilah yang terdengar canggih nan terdengar intelek ini? Maksudnya apa? menjelaskan soal apa? Dalam bahasan kali sini akan dijelaskan lebih jauh, walaupun tidak terlalu teknikal.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Audio Technica ATH-M50x. Salah satu headphone favourite sejuta umat. Source : Audio Technica

Bright

Bright” bisa dibilang kebalikan istilah / arti dari “warm”. Peralatan audio yang terdengar “bright” menghasilkan kualitas suara di nada tinggi (high-pitched sounds). Istilah lain untuk menggambarkan istilah kata ini, yaitu seperti “Crisp” dan “Clarity”.

Headphone yang terlalu bright, biasanya membuat telinga terasa lelah sehabis digunakan dalam waktu agak lama. Karena suara / nada tinggi akan terasa mengganggu, dan bila terlalu kencang, kita akan mengalami iritasi pada telinga tanpa sadar sebabnya.

 

Warm

Istilah ini yang paling familiar di kalangan pecinta audio newbie (pasar audio komersil) sekarang. Istilah warm punya karakter dengan frekuensi suara bass yang tebal, musikal.

Bahkan yang lebih ekstrim, karena selera pasar (komersil), karakter warm dibuat semakin over frekuensi bassnya. Bahkan soundbars (all-in-one speaker systems), cenderung memiliki karakter warm. Bose, Jbl, dan yang paling popular yaitu Beats Audio, mampu membentuk ceruk pasar ini dengan menghasilkan produk  yang tepat dengan selera pasar.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Beats by Dre

Neutral

Seperti perkataan orang tua, dalam hidup tetap netral merupakan pilihan bijaksana. Pilihan ini akan jauh masalah dan membuat kita mampu melihat segala sesuatu dari dasarnya. Dan biasanya juga pilihan bagus karena jauh dari bias.

Dan bicara soal audio monitoring—headphone dan / speaker, netralitas jadi pilihan terbaik. Konsep tentang audio yang netral atau bahasa canggih lainnya, uncoloured audio, lebih dulu eksis.  Setidaknya bagi kalangan audiophile yang melakukan segala daya dan upaya mengejar kemurnian cinta—audio. Netral juga bisa dibilang sebagai implikasi tengah – tengah ketika warm terlalu tebal (nge-bass) namun sedikit treble dan bright suara menjadi terdengar tipis.

Sebenarnya headphone atau speaker setidaknya mampu menghasilkan  frekuensi suara yang mampu menjangkau wilayah indera pendengaran yang saat ini sudah terukur. Dan pastinya hukum fisika membuat hal ini jadi sangat sulit. Sederhananya tiap headphone atau speaker mempunyai driver (hardware) yang sangat tergantung dengan bentuk / desainnya, sebagaimana tiap suara manusia terdengar berbeda satu sama lainnya.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Genelec Studio Active Monitoring. Source :  Genelec Oy

Untuk speaker lebih mudah untuk ‘mengejar’ netralitas ini dengan mengakalinya menggunakan beberapa cara. Salah satunya menggunakan beberapa ukuran speaker dalam sebuah ruangan, dengan tiap speaker spesifik untuk menghasilkan frekuensi audio tertentu.

Sedangkan bagi headphone, pastinya jauh lebih sulit. Bahkan bagi headphone paling mahal sekalipun pastinya mempunyai kelebihan pada frekuensi tertentu. dan kelemahan pada frekuensi lainnya. Dan kebanyakan headphone paling popular di kalangan professional yang cenderung punya karakter ‘bright’ justru menjadi minus bagi konsumen awam.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Oswalds Mill Audio (OMA) Showroom. Source : OMA world’s finest high fidelity equipment

Bagi komunitas audio hardcore yang serba perfeksionis, semua bahasan ini agak sensitive karena banyak perdebatan tentang istilah karakter suara ini. Salah satu ungkapan cukup eksentrik soal ini kurang lebih bunyinya seperti ini :

“Prinsip dasar dari hi-fi system yaitu bisa membuat penggunanya menikmati rekaman musik di rumah. Akurasi memang sangat didambakan, tapi itu semua jadi tidak relevan kalau tidak bisa membuat emosi tersalurkan. Siapa yang peduli perangkat audio ‘akurat’ atau tidak, kalau tidak dapat dinikmati lama – lama? Itu semua tidak ada artinya kalau tidak bisa buat seluruh tubuh bergoyang.” 💃🏻💃🏻

John Atkinson, “The Acoustical Standard Part 2” Stereophile 1988

 

Yang paling simple, cobalah segala macam jenis headphone atau bahkan speaker yang ada di pasaran, dan cari yang paling pas dengan selera dan pastinya sama isi kantong Anda.

Acuannya sederhananya kurang lebih seperti ini, mau dengar musik dengan suara yang lebih renyah? Mau dengar tiap nada pas pada tempatnya, dan tiap detail kecil instrument akustik terdengar? Kalau seperti itu, maka lebih pas headphone dengan karakter bright, tau menambahkan tweeter pada setup speaker.

Hanya saja yang paling penting jangan memaksakan gendang telinga terus – menerus mendengar frekuensi tinggi ini. Karena akibatnya seperti telah dijelaskan pada artikel Penggunaan Headphone Yang Sesuai Tanpa Menyakiti Telinga, akan sangat bahaya resikonya. Karena karakter bright pada headphone cenderung terasa lebih lebar. Hal ini dikarenakan otak manusia lebih mudah nge-lokalisasikan frekuensi tinggi dibandingkan frekuensi rendah. Contoh sederhananya, tidak berpengaruh banyak buat subwoofer mau diletakan di mana dalam sebuah ruangan.

Sedangkan bila mau karakter yang lebih tebal, bass terasa menendang, atau headphone terdengar terasa seperti di bioskop, atau suara penuh kehangatan layaknya sang kekasih😍, maka headphone  dengan karakter warm yang paling cocok.

Pada intinya, layaknya pasangan, tidak ada headphone bahkan speaker yang benar – benar sempurna untuk segalanya. Dan jangan sampai ketidaksempurnaan ini jadi bikin kita frustasi. Karena tiap orang punya pilihan dan selera personal yang berbeda – beda. Sing penting ojo do gontok – gontokan ✌.

Semoga artikel kali ini bermanfaat walaupun bahasa untuk menjelaskan istilah teknisnya cukup sulit. Setidaknya saya berusaha sebaik mungkin untuk Anda😎. Tidak mudah mengungkapkan perasaan emosi yang terlalu dalam ke dalam sebuah kata, dan selalu, cara terbaik untuk mendapatkan kejujuran yaitu dengan mendengarkan sendiri baik – baik.

 

sony wh-1000X M3

Ini Hal Yang Perlu Anda Tahu Mengenai Update Teknologi Wireless Headphone

Perkembangan wirelees headphone saat ini di dorong dengan semakin berkembangnya gaya hidup yang menuntut produsen headphone memberikan inovasi yang menunjang era milenial saat ini.

 

Pada perhelatan IFA Berlin tahun ini (2018), produsen headphone melakukan perubahan cukup radikal yang menjadikan pasar wireless audio semakin sexy. Dilengkapi dengan USB-C, voice assisstants, dan daya tahan baterai lebih tahan lama, wireless headphone 2018  membuat headphone 2017 layaknya headphone ketinggalan jaman. Berikut updatenya :

 

USB-C

wireless headphone

Saat ini semua wireless headphone dan earphones yang dipamerkan pada perhelatan IFA Berlin 2018 sudah dilengkapi dengan port charging USB-C. Contoh paling anyar wireless headphone Sony 1000X M3, yang pastinya akan membuat pemilik generasi wireless headphone Sony 1000X sebelumnya menyesal. Selain Sony dengan teknologi USB-C, merk lainnya seperti Sennheiser tipe Momentum True Wireless earbuds dan headphone Bayerdynamic tipe  Lagoon juga sudah menggunakan USB-C. Sedangkan Audio Technica masih tetap menggunakan MicroUSB, yang cepet atau lambat akan menjadikan USB-C sebagai standart seperti produk lainnya.

 

Voice Assistant

Bose QC35 IIs pioneer update fitur asisten pribadi dengan membuat tombol khusus untuk mengaktifkannya. Sony 1000X, Sennheiser Momentum True Wireless dan Bayerdynamic Lagoon sekarang sudah dilengkapi voice assistant dari Siri dan Google (Google assistant). Ketiga tipe wireless headphone ini bisa dikatakan sebagai kiblat teknologi headphone masa depan. Karena mampu menjawab perkembangan teknologi.

 

Sony wh1000xm3

sony wh-1000xme with google assistant. source : sony.com

Saat ini wireless headphone secara sederhana mampu terkoneksi dengan smartphone. Tapi ke depannya akan lebih banyak perusahaan yang akan mencoba menjadikan wireless headphone semakin terintegrasi sebagaimana jam tangan berevolusi menjadi lebih pintar—smartwatch. Hal ini semakin membuktikan bagaimana integrasi industri audio visual dan teknologi informasi saling memberikan peranan dalam menjawab tantangan jaman.

 

Long life The Battery

Sony 1000x menjamin 30 jam umur baterai itupun dengan fitur noise cancelling selalu aktif, sedangkan Beyerdynamic Lagoon mampu bertahan seharian—24 jam dengan mode yang sama. Tanpa mode noise cancelling (off), Bayerdynamic Lagoon sanggup bertahan selama 46 jam. Sedangkan dengan mode noise cancelling (off), Sony 1000X mungkin bisa dibilang tidak akan kehabisan daya.

sony headphone

sony noise cancelling chip. source : sony.com

Selain itu teknologi noise cancelling pada wireless headphone Sony semakin canggih sehingga jauh lebih efektif. Bicara umur baterai Sennheiser Momentum True Wireless yang ‘cuma’ 12 jam bila dibandingkan Sony dan Beyerdynamic pastinya terasa sangat singkat. Tapi bila dibandingkan dengan design dan kenyamanan, Sennheiser sepertinya lebih unggul.  Simple namun canggih. Plus untuk sekelas Sennheiser pastinya kualitas suara yang dihasilkan  sudah tidak perlu diragukan seperti hal nya dengan Sony atau Beyerdynamic. Sehingga sangat nyaman bila selama 12 jam mendengarkan musik dengan kualitas audio yang bermutu dan memberikan pengalaman terbaik bila dibandingkan mendengarkan musik cukup lama bahkan sampai berpuluh  – puluh jam namun tidak memberikan kenyamanan.

 

Desain Berkelas

Beberapa tahun lalu melihat bentuk dan desain dari jenis – jenis headphone tidak mengalami perubahan signifikan. Masih dengan cangkang lebar, kaku, tidak pas di telinga, dan terdengar seperti semua dipaksakan, terutama bass yang over dan treble yang tipis.

Headphone saat ini semua semakin berlomba – lomba agar semakin terlihat stylish dan modis karena sebagai lifestyle. Headphone seperti Beyerdynamic contoh paling shahih bagaimana desain headphone dibawa ke tingkatan baru. Dengan lampu LED di dalam cangkang headphone yang mengindikasikan status aktif. Tidak  ada lagi notifikasi biru LED yang kedap – kedip yang pastinya sering mengganggu.

beyerdynamic lagoon

Beyerdynamic lagoon. source : Beyerdynamic Europe

Ketika kota semakin berkembang, di dukung dengan sarana transportasi yang semakin terintegrasi, akan semakin lebih banyak orang menggunakan sarana transportasi massal hingga perkembangan live streaming (podcasting, vlogging), mendorong teknologi headphone berpacu dengan tuntutan jaman dengan cara yang kita harapkan dari industry teknologi yaitu dengan memberikan inovasi dan kualitas terbaik.

Semoga bermanfaat …

latency ms

Penyebab dan Cara Mudah Mengatasi Latency Pada Saat Live Streaming Dan Proses Produksi Di Studio

Ketika waktu adalah segalanya

Banyak penyebab latency beberapa di antara di bahas artikel ini, tapi saat di runutkan lebih jauh, semuanya merujuk pada persoalan waktu. Apakah rekaman melalui DI guitar dan bass, miking voice over atau alat musik, akan ada delay ketika antara nada di mainkan atau dinyanyikan, dan ketika didengar melalui monitoring (speaker dan headphone).

 

Pada saat menggunakan perangkat audio digital, seperti usb microphone, kadang kita mengalami penundaan (delay) mulai saat kita mengeluarkan suara ke microphone lalu pada saat mendengar audio melalui speaker komputer atau headphone. Saat kita mengeluarkan suara melalui USB microphone, sinyal analog yang tertangkap oleh komponen dalam microphone butuh waktu untuk di konversi menjadi signal digital agar perangkat komputer dapat membacanya. Setelah komputer mampu membaca sinyal tersebut, dibutuhkan lagi waktu untuk di konversikan kembali menjadi sinyal analog agar bisa didengarkan melalui speaker dan / headphone.

latency

Penundaan yang di alami ini di sebut “latency”. Latency pada dasarnya sejumlah waktu yang dibutuhkan sinyal digital (audio) untuk diterjemahkan. Ini terjadi pada setiap perangkat digital audio dan berhubungan dengan konversi analog – digital / digital – analog (AD/DA). Karena konversi ini membutuhkan waktu, kita sebagai pengguna akan mengalami latency.

 

Tentu, latency bukan hal unik bagi perangkat digital audio—hal ini terjadi secara alamiah tiap saat. Secara matematis, latency terjadi dengan perkiraan 1 ms untuk setiap 1.1 ft  (0.33528 m) suara untuk melakukan perjalanan. Jadi, pada 11 ft (3.3528 m) perkiraan kita mengalami latency selama 10 ms, yang merupakan jumlah / waktu latency yang dapat di deteksi oleh manusia.

 

Dengan digital audio, latency biasanya di asosiasikan dengan USB microphone, USB Turntables dan perangkat digital recording (interfaces). Akan sangat susah untuk memprediksi berapa banyak latency yang akan kita alami pada suatu perangkat, hal ini di karenakan komponen yang digunakan untuk memproses sinyal digital audio cukup banyak. Mulai dari jenis perangkat, komputer hingga software recording yang digunakan menjadi faktor yang akan menentukan latency.

audio latency

Secara alami  terjadinya latency biasanya tidak terlalu menggangu atau menyebabkan masalah serius. Akan tetapi latency pada digital audio, terutama saat di alami Mic USB, cukup menyebalkan dan merusak fokus. Sedangkan pada Turntables USB latency seringnya tidak terdeteksi kecuali kita sangat dekat dengan perangkat turntables hingga terdengar suara (noise) dari permukaan piringan hitam yang sedang diputar. Kita bisa mengurangi kecepatan kita ketika berbicara melalui microphone untuk mencoba menyamakan suara yang kita dengar melalui speaker komputer dan / headphone. Namun hal ini tidak hanya cukup melelahkan, tapi juga memakan waktu produksi. Akan tetapi banyak solusi untuk masalah ini.

latency ms

Berhubungan dengan kemampuan komputer yang semakin cepat dalam memproses data, software recording yang digunakan diharapakan mampu mengkompensasi latency melalui audio / playback “buffer”, yang dapat di atur pada program recording bagian “preferences”. Secara umum, semakin panjang waktu buffer (yang akan menyebabkan lebih banyak latency) memberikan perangkat komputer waktu lebih banyak untuk memproses audio, yang pada akhirnya mengurangi kesalahan potensial. Dan sebaliknya, waktu buffer yang lebih singkat (sedikit latency) berarti waktu proses audio pada komputer semakin cepat, tapi hal ini akan menyebabkan kesalahan potensial pada saat recording. Pelajari buku manual petunjuk penggunaan dari software recording untuk mengurangi latency. Hal lainnya yang dapat dilakukan agar komputer dapat memproses audio secara efisien yaitu dengan menutup aplikasi lainnya pada saat recording. Hal ini ini juga mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan (error).

bluetooth latency

Cara lainnya untuk mengurangi latency pada saat menggunakan Mic USB dengan memakai mic yang memiliki output headphone. Hal ini berguna untuk langsung me-monitor audio, sebelum latency terjadi (zero latency monitoring). Beberapa mic seperti Blue Yeti dan Audio Technica AT2020USB+ sudah dilengkapi headphone jack. Untuk mengatur komputer bekerja sesuai dengan output headphone membutuhkan akses pada pengaturan suara (sound setting) dan mengatur input perangkat USB audio / recording dan membuat default soundcard komputer menjadi perangkat output / playback. Lengkapnya silakan pelajari petunjuk penggunaan pada perangkat USB Audio dan software recording untuk instuksi lebih jauh.

 

Semoga bermanfaat …

Audio Setup

4 Tips Sederhana Menghasilkan Kualitas Audio Yang Optimal Untuk Live Streaming

Banyak pertanyaan mengemuka saat kita berbicara apa dan bagaimana mempersiapkan (setup) audio yang optimal  untuk  live streaming ( vlogging, podcasting, webinar, etc ). Ketika membahas audio secara umum maka pilihannya tidak terbatas, dan artikel kali ini akan lebih berfokus kepada aspek audio, yaitu pemilihan dan penggunaan Microphone dan pendukungnya yang tepat pada saat live streaming.

Secara umum ada beberapa tips yang perlu dipertimbangkan agar presentasi efektif seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Namun kali ini hanya akan di bahas 4 tips sederhana menghasilkan kualitas audio yang optimal untuk live streaming tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

 

 

REKOMENDASI PERALATAN

Integrasi audio visual dan teknologi informasi  saat ini memberikan kemudahan  bagi kita dalam menentukan peralatan audio apa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan isi kantong kita. Namun di saat yang sama justru mendatangkan godaan bila kita tidak menetapkan batasan yang pas. Mulai dari perangkat seperti preamps, mixer, audio interfaces, dsb pilihannya tidak terbatas. Tanpa pengetahuan dan batasan yang jelas, kita akan sangat dengan mudah menghabiskan ratusan ribu bahkan s/d puluhan juta Rupiah hanya untuk Microphone.

Jadi saran saya tetapkan batasan, pilih dan coba. Terlalu banyak pilihan biasanya malah membuat kehilangan fokus pada tujuan presentasi / streaming, yaitu pesan tersampaikan dengan jelas. Jadi tetapkan apa yang ideal menurut style juga budget Anda.

Rekomendasi setup microphone paling dasar yaitu memberikan suara yang jernih  dan ‘warm’ tanpa ada gangguan paling tidak se-minimum mungkin dari suara latar yang tidak diinginkan. Yang kedua mudah digunakan, dan terakhir tidak menguras biaya.

Berikut panduan dasar setup audio untuk streaming :

1 Microphone

A. Tipe Microphone

B. Pola Diaphgram

C. Tipe Konektor

2.  Audio Interfaces

3. Aksesories

4. Lingkungan

 

  1. MICROPHONE

A. Tipe Microphone

 Semua microphone merupakan transducers, merubah suara menjadi sinyal electric. Dan yang paling umum digunakan untuk vocal yaitu Condenser dan Dynamic Microphone.

• Microphone Condensor

 

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Menggunakan daya kapasitor untuk menangkap sumber suara. Sangat sensitive dan biasa digunakan dalam studio karena memberikan suara lebih ‘warmer’ pada saat hasil rekaman. Dan membutuhkan -/+48v phantom power untuk digunakan, yang biasa di supplai oleh audio interface atau mixer. Kelebihan ini sekaligus juga memberikan kekurangan apabila digunakan pada ruangan yang secara akustik tidak ideal karena akan menangkap setiap suara yang terjangkau.

 

• Microphone Dynamic

 

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Microphone dynamic kebalikan dari cara kerja loudspeaker , yaitu menggunakan induksi magnetic untuk menangkap suara. Microphone jenis ini lebih kuat namun kurang sensitive dibandingkan microphone condensor. Penggunaanya tidak memerlukan extra power supply dan harus cukup dekat antara sumber suara dengan microphone. Itu kenapa lebih sering digunakan dalam live performance.

Sederhananya, jika membutuhkan akurasi dan kejernihan suara, microphone condensor lebih cocok digunakan. Bila ditambah dengan kondisi akustik ruangan dan penggunaan juga perawatan yang tepat akan memberikan hasil terbaik. Namun bukan berarti tipe microphone dynamic ‘haram’ digunakan pada streaming. Selain lebih murah, penggunaan yang tepat microphone dynamic dengan audio interface dan/ mixer yang memadai juga mampu menghasilkan suara yang baik.

 

B. Pola Microphone

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Figure no. 1

 

Microphone menangkap suara dengan pola yang berbeda – beda sesuai dengan fungsinya. Untuk vokal paling ideal pola cardiod ( bentuk hati—figure no. 1). Menangkap suara sangat direksional, yaitu suara yang keluar dari mulut sekaligus menolak suara dari samping dan belakang diaphgram microphone.

 

C. Konektor Microphone

Pertanyaan paling sering dikemukakan mana lebih baik microphone yang menggunakan XLR atau USB konektor? Pada dasarnya Microphone dengan XLR konektor jauh lebih ideal karena selain menjadi standar industri rekaman profesional, juga memberikan kemudahan dalam setting / adjustment hasil audio pada audio interface / mixer secara langsung dibandingkan mengotak – atik pada software di computer.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

XLR Microphone

Microphone dengan USB konektor lebih tepat bila dikatakan sebagai kompromi produsen Microphone dengan pasar consumer, di mana penggunaanya tinggal Plug n Play pada PC atau laptop. Saat ini kualitas Microphone dengan konektor USB pun semakin meningkat. Microphone AT2020USB plus dan Blue Yeti contohnya.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

USB Mic

Microphone USB bisa di bilang saat ini sudah memiliki nyaris semua kemampuan Microphone XLR, plus ditambah onboard sirkuit, power, dsb yang bagi vlogger pemula akan lebih mudah dan murah. Namun, untuk rencana jangka panjang, yang bisa memberikan ruang yang luas untuk upgrade, kemudahan dalam pengaturan dan menghasilkan kualitas suara yang ideal, maka Microphone dengan konektor XLR jauh lebih efektif dan efisien. Tapi semuanya balik lagi sangat tergantung pada kebutuhan dan budget masing – masing.

 

  1. AUDIO INTERFACES

Pada dasarnya audio interface merupakan external sound card dengan beberapa kelebihan seperti :

• Phantom power (+/- 48V) yang dibutuhkan Microphone XLR Condensor

• Memudahkan proses setting dan adjustment audio

• Memiliki pre-ampifier sehingga signal yang didapatkan microphone ideal. Semakin berkualitas • preamps, semakin baik kualitas suara yang dihasilkan.

• Merubah signal analog dari microphone menjadi signal digital agar dapat di proses PC / laptop.

• Mengurangi gangguan (interference) dari sirkuit internal pada computer sehingga mencegah signal mengganggu (noise).

• Upgradeable

Audio interfaces simple seperti Focusrite Scarlet 2i2 atau Presonus AudioBox USB atau budget Mixer seperti Yamaha MG10XU, Behringer Xenyx 802, hingga Mackie PROFX8V2 perlu dipertimbangkan.

 

3. AKSESORIS

Berikut beberapa aksesoris penting yang perlu dipertimbangkan untuk digunakan dengan Mic :

• Mic Arm / Stand  : Membantu fleksibilitas mic

• Shock Mount : Isolasi untuk mencegah getaran / goncangan pada mic.

• Pop Filter : Dibutuhkan bila merekam dengan posisi Mic dekat dengan mulut dan membantu  mencegah ledakan suara yang muncul akibat dampak mekanik dari udara yang bergerak cepat ke mic. Selain itu me-minimalisir efek plosive sound, dan juga menjaga kelembapan microphone sehingga lebih awet.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

 

4. LINGKUNGAN

Salah satu faktor paling penting namun paling sering dilupakan, yaitu kondisi lingkungan sekitar sangat mempengaruhi kualitas audio. Perangkat audio biasa saja dengan ruangan yang secara akustik ideal akan menghasilkan kualitas suara yang lebih baik dibandingkan perangkat High-End audio dengan akustik ruangan yang buruk.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Sangat penting untuk testing & adjusting pada saat penggunaan microphone di sebuah ruangan. Coba berbagai posisi microphone yang paling ideal. Perhatikan suara sekitar seperti kipas pada laptop, AC hingga bunyi keyboard komputer. Gunakan peredam untuk mengurangi ‘echo’ dari suara yang memantul pada ruangan. Penggunaan carpet di lantai atau menggantung tirai dari bahan yang menyerap suara akan sangat membantu. Pointnya, banyak cara mudah dan murah untuk membuat ruang lebih acoustic-friendly.

 

KESIMPULAN

Menghasilkan kualitas audio yang baik tidak seharusnya menjadi beban tersendiri, terutama bila baru memulai vlogging, podcasting, webinar atau live streaming lainnya. Segala sesuatunya tidak langsung harus seperti studio profesional. Yang lebih penting audiens dapat memahami pesan yang ingin disampaikan dengan sedikit mungkin gangguan.

Hal yang perlu terus – menerus dilakukan yaitu mengetes level audio, membuat ruangan secara akustik se-ideal mungkin, dan setup microphone sesuai dengan situasi dan kondisi yang dibutuhkan. Karena microphone akan terdengar berbeda  antara orang yang satu dengan orang yang lain dan di antara ruangan yang berbeda – beda. Microphone hanya merupakan alat dan membutuhkan perangkat yang berbeda – beda untuk situasi yang berbeda pula. Itu kenapa sangat penting anda riset dan berusaha mencari microphone yang paling sesuai dengan karakter vokal, kebutuhan dan lingkungan sekitar.

Membeli perangkat audio merupakan investasi dan selayaknya sebuah investasi memerlukan riset dan pencarian yang tepat.  Dengan jumlah informasi yang tersedia di internet, tidak ada alasan bagi anda untuk tidak menggunakannya. Mengetahui apa yang paling pas bagi anda dan dengan sumber informasi yang tepat merupakan keahlian yang penting tidak hanya sebagai seorang vlogger, podcaster, dan profesi lainnya, tetapi juga dalam hidup ini 🙂

 

Semoga bermanfaat dan apabila ada saran dan rekomendasi produk lain, please let us know …

Blue Yeti Microphone

Surprising Benefits of Blue Yeti USB Microphone

Review Blue Yeti USB Microphone

 

Bicara USB Microphone dengan banyak keunggulan rasanya tidak lengkap bila tidak menyertakan microphone ini. Seperti AT2020USB+Blue Yeti terkenal sebagai salah satu yang terbaik bagi siapa pun yang membutuhkan jenis Mic USB yang  mampu menangkap kebutuhan 16-bit/48 kHz, sehingga memiliki multi fungsi sangat mumpuni baik untuk rekaman maupun untuk streaming (vlogging, podcasting, gaming, conference calls).

 

Blue Yeti Microphone

Dengan teknologi tiga kapsul dan empat pola setingan yang dapat di kustomisasi (cardiod, omnidirectional, stereo, bi-directional) di desain untuk memberikan kualitas suara yang kaya dan detail. Sedangkan fitur volume headphone, instan mute, dan analog microphone gain memberikan keleluasaan dalam pengaturan dalam proses rekaman.

Dilengkapi juga dengan konektor 3.5mm headphone jack memudahkan dalam monitoring tanpa zero-latency / delay.  Kemudahan dalam penggunaannya juga memberikan nilai tambah bagi mic ini. Cukup di colok ke port USB pada komputer—minimum 64 MB RAM, dengan kabel USB yang telah tersedia, lalu kalibrasi dengan sistem operasi pada komputer (Windows 10, 8, 7, Vista, Xp dan Mac OS X 10.4.11 atau lebih), maka Si Yeti ini siap digunakan.

Blue Yeti MicrophoneMic ini juga memiliki fleksibilitas karena dapat di lipat, putar dan disesuaikan sesuai kebutuhan.  Tersedia dengan pilihan warna untuk disesuaikan dengan selera dan pastinya harga yang bersahabat menjadikan Blue Yeti sebagai microphone USB dengan segala keunggulan bila dibandingkan  dengan kompetitornya.

 

 

 

 

 

SPESIFIKASI TEKNIS

MICROPHONE AND PERFORMANCE :

  • Power Required/Consumption: 5V 150mA
  • Sample Rate: 48 kHz
  • Bit Rate: 16-bit
  • Capsules: 3 Blue-proprietary 14mm condenser capsules
  • Polar Patterns: Cardioid, Bidirectional, Omnidirectional, and Stereo
  • Frequency Response: 20Hz – 20kHz
  • Max SPL: 120dB (THD: 0.5% 1kHz)
  • Dimensions (extended in stand): 4.72″ (12cm) x 4.92″(12.5cm) x 11.61″(29.5cm)
  • Weight (microphone): 1.2 lbs. (.55 kg)
  • Weight (stand): 2.2 lbs. (1 kg)

 

HEADPHONE AMPLIFIER :

  • Impedance: 16 ohms
  • Power Output (RMS): 130 mW
  • THD: 0.009%
  • Frequency Response: 15 Hz – 22 kHz
  • Signal to Noise: 100dB

 

KEBUTUHAN SISTEM OPERASI

  • Windows 7, 8, 10
  • USB 1.1/2.0 (or newer)
  • 64MB RAM (or better)
  • MACINTOSH
  • Mac OSX (10.4.11 or higher)
  • USB 1.1/2.0
  • 64 MB RAM (minimum)

 

Nilai Plus :

  • THX certified model
  • Kualitas studio dengan suara detail dan kaya
  • 4 picking patterns termasuk mode stereo
  • User-Friendly ( Plug n Play )
  • headphone output
  • Solid full metal body
  • Harga bersahabat

 

Nilai Minus :

  • Ukuran mic di luar standar, menyulitkan mencari shock mount yang pas
  • Tombol Kontrol yang ringkih
Page 1 of 212