Free songs
  • RSS feed
  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
 
Tag Archives:

audio system

Home » audio system
wireless Microphone

5 Tips Yang Perlu Anda Tahu Dalam Memilih Wireless Microphone

Bagaimana wireless microphone bekerja dan apa keuntungannya

 

Wireless microphone bekerja dengan menghubungkan microphone unit (transmitter) dengan wireless receiver via radio frekuensi atau sinyal digital. Receiver dengan berbagai macam jenis dan bentuk.

Beberapa terhubung dengan konektor jack 3.5 mm dan menyalurkan suara yang datang dari microphone (transmitter) ke speaker / headphone. Sedangkan lainnya berada di atas meja, podium, dan terhubung ke sound system melalui kabel.

Bagaimana memilih wireless microphone

 

1. Budget—dengan banyaknya pilihan yang ada di pasar saat ini dan dengan range harga mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah memberikan banyak pilihan bagi anda untuk memilih mana yang paling sesuai dengan budget anda. Seberapa banyak anda mau mengeluarkan uang untuk mendapatkan microphone yang sesuai.

Pastinya, semakin tinggi anda invest dengan membeli wireless microphone, kualitas yang di dapatkan juga semakin bagus dan lebih tahan lama. Walaupun tidak dapat dipungkiri ada beberapa wireless microphone dengan harga rendah namun memiliki kualitas yang bagus.

 

2. Jumlah—banyak pembeli yang mencari wireless mic system dengan lebih dari satu unit dalam 1 set (2 handheld-microphone dengan 1 unit Receiver). Jika anda membutuhkan lebih dari 1 pembicara, wireless microphone system dengan 2 buah handhled-microphone tentunya akan lebih menguntungkan.

Namun untuk kualitas wireless microphone terbaik, single handheld dengan single receiver merupakan pilihan terbaik.

Dual Channel Handheld Wireless System

Dual Channel Handheld Wireless System Shure BLX288/PG58. Source : Shure.com

 

3. Jenis Wireless Microphone—kebanyakan orang menganggap wireless microphone sinonim dengan handheld atau tradisional mic panggung. Namun faktanya ada beberapa jenis wireless microphone (dalam hal ini, handheld microphone merupakan transmitter) yang perlu diketahui.

 

  • Handheld—tipikal tradisional microphone dengan transmitter yang menyatu dengan mic itu sendiri. Merupakan jenis microphone dengan reputasi mampu digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai kebutuhan aksi panggung, pidato, broadcast, karaoke dan lainnya.
Audio Technica

atw 2000a. Source : Audio Technica

  • Headset—seperti namanya tipikal jenis microphone ini digunakan di bagian kepala dengan fleksibilitas tinggi untuk disesuaikan dengan kbutuhan pengguna.
Wireless Microphone

Shure SM35 Headset Condensor. Source : shure.com

  • Lavalier—terkenal dengan sebutan Clip-On Mic atau microphone jepit. Digunakan apabila pengguna tidak mau ribet memegang handheld mic atau risih menggunakan headset mic. Lebih sering digunakan untuk kebutuhan speeches dan sangat tidak disarankan digunakan untuk kebutuhan aksi panggung seperti music performance atau instrument. Kecuali memang ada beberapa jenis lavalier yang khusus untuk kebutuhan instrument seperti saksofon dan sejenisnya.
Wireless Microphone

EW 112P G4 Sennheiser. Source : Sennheiser.com

 

4. Fungsi Penggunaan—akan terasa sedikit relative penting bila bicara mencari wireless mic yang tepat. Pertanyaan ini akan kembali pada pertanyaan jenis wireless mic apa seperti sebelumnya diutarakan di atas, dan juga berkorelasi dengan berapa jumlah mic yang dibutuhkan.

Penggunaan sangat penting ketika menentukan kebutuhan wireless mic system. Selain itu, kebutuhan jangkauan, kekuatan, sinyal wireless.

 

5. Analog vs Digital—analog menghubungkan microphone (transmitter) ke receiver via radio frekuensi. Sedangkan Digital receiver (yang pastinya lebih mahal) menggunakan sinyal yang biasanya tidak dapat terganggu (uninterrupted) seperti WiFi untuk mengirimkan suara.

Keduanya sama – sama akan bekerja dengan baik, tapi digital jelas memberikan keuntungan lebih, walaupun dengan harga jauh lebih tinggi. Namun selama penggunaan yang tepat wirelees mic system dengan analog sinyal selalu dapat di andalkan.

Wireless Microphone

Shure Axient Digital. Source : Shure.com

wireless microphone systems

5 Kesalahan Yang Perlu dihindari Saat Menggunakan Wireless Microphone

Wireless Microphone System

Menggunakan microphone wireless memang memberikan keleluasaan dan kemudahan  baik bagi penggunanya juga bagi crew sound system, namun apabila tidak memahami dasar bagaimana sebuah wireless system dan gelombang radio (RF) bekerja maka akan terjadi hal – hal seperti sinyal yang hilang (dropouts), interferensi dan distorsi.

Berikut 5 kesalahan yang umum terjadi ketika menggunakan microphone wireless, baik itu handheldmicrophone maupun in-ear monitoring system.

  1. Sinyal Terhalang

Menjaga jalur antara transmitter dan receiver antenna sebaik mungkin. Hindari benda logam, dinding, dan sejumlah orang (apalagi dalam jumlah banyak) antara antenna receiver dan transmitter pada microphone. Idealnya, reciver antenna sebaiknya berada pada ruangan yang sama dengan transmitter dan berada tanpa halangan. Karena tubuh manusia akan menyerap, menghalangi, menginterferensi dan memantulkan sinyal Radio Frekuensi (RF) yang dipancarkan transmitter mic wireless.

wireless microphone

Dropout signal

Selain itu apabila tangan menghalangi antenna external pada handheld transmitter pada microphone, maka efektivitas output akan berkurang sebanyak 50% atau lebih. Sama dengan itu, apabila fleksible antenna pada bodypack transmitter tertekuk atau terlipat, maka transmisi sinyal juga akan berkurang sangat signifikan.

  1. Kesalahan Jenis Antenna Atau Salah Penempatannya

Receiver antenna menjadi bagian yang paling sering salah dimengerti dalam penggunaan microphone wireless. Kesalahan seleksi antenna, penempatan, atau kabel bisa menyebabkan jangkauan yang jadi lebih pendek, dead spots pada area tertentu dan / sinyal yang lemah yang diterima pada reciver yang pada akhirnya menyebabkan gangguan. Walaupun teknologi semakin modern, akan tetapi antenna yang tepat juga harus tetap ditempatkan pada lokasi yang sesuai agar performanya tetap maksimal dan selalu dapat diandalkan.

Wireless Microphone

Source : shure.com

Untuk memastikan performa yang baik, jarak antar antenna paling sedikit ¼ dari panjang gelombang ( kira – kira 5 inchi pada 600MHz ). 1 panjang gelombang ( +/- 20 inchi pada 600 mHz) akan lebih baik. Antenna pada receiver sebaiknya di konfigurasi membentuk “V”, dimana akan memberikan daya tangkap yang lebih baik ketika transmitter bergerak dan tertangkap pada berbagai macam sudut.

Shure Directional Antenna

remote antenna. source : shure.com

Berusaha menjaga agar antenna sedekat mungkin dengan jalur transmitter. Antenna juga sangat spesifik frekuensi-band tertentu. jangan mencoba menggunakan antenna dari system lain tanpa double-checking frekuensi terlebih dahulu.

Jika receiver akan ditempatkan jauh dari area performance (di ruang operator atau rack tertutup) ½-wave antenna atau directional antenna sebaiknya dipasang terpisah (idealnya di atas audiens) agar frekuensi ke transmitter tidak terhalang. ¼-wave antenna sebaiknya jangan pernah di pasang terpisah (remotely mounted), karena membutuhkan receiver chassis sebagai ground plane.

Meningkatkan jarak antara berbagai antenna menjadi 1 panjang gelombang (sekitar 20 inch pada 600MHz) akan meningkatkan performa.  Lebih dari satu panjang gelombang, jarak ekstra antara antenna tidak akan meningkatkan performa frekuensi secara signifikan, akan tetapi memberikan jangkauan yang lebih baik pada panggung yang besar, tempat ibadah atau ruang meeting

wireless microphone

source : shure.com

Jika antenna akan ditempatkan jauh dari panggung, sebaiknya gunakan directional antenna untuk meningkatkan daya terima sinyal secara langsung dan sedikit dari sudut yang lain.Wireless Microphone

Jika antenna akan dihubungkan dengan receiver dengan kabel coaxial yang panjang, hubungkan amplifier antenna yang berguna untuk mengatasi sinyal loss pada kabel. Sedikit-banyaknya sinyal yang hilang tergantung dari panjang dan jenis kabel yang digunakan. Oleh karena itu ikuti rekomendasi dari pabrikan. Jumlah bersih (total less) sebaiknya tidak melebihi dari 5 dB.

wireless microphone

source : shure.com

  1. Set Up Frekuensi Yang Buruk.

Set up wireless frekuensi yang tepat harus memenuhi dua kriteria sebagai berikut :

  1. Frekuensi harus menghindari saluran TV lokal yang aktif
  2. Frekuensi harus saling kompatibel

Transmitter TV biasanya beroperasi pada power level 1 juta watts sedangkan wireless mic biasanya hanya 50mW atau kurang. Untuk melawan interferensi siaran tv, hindari menggunakan frekuensi tv lokal.

Disebut Lokal pada umumnya berjarak antara 50 – 60 mil, tergantung dari jangkauan transmitter tv dan pada lokasi di mana wireless microphone digunakan. Kabar baiknya penggunaan wireless microphone pada area indoor lebih sedikit beresiko bila dibandingkan penggunaan pada area outdoor karena struktur bangunan akan berfungsi sebagai penghalang sinyal tv.

Tidak Istilah Yang Namanya “Set And Forget”

wireless microphone

wireless microphone receiver. source : shure.com

Walaupun perangkat sound system tidak berpindah – pindah, radio frekuensi dapat berubah tanpa di duga. Walupun frekuensi stasiun tv selalu konstan, tapi jika terdapat wireless system lain dari perangkat lain di tempat atau interferensi dari resto / coffee shop terdekat—maka wireless frekuensi perlu di sesuaikan lagi. Yang terbaik dilakukan sound check sebelum digunakan. Itu kenapa koordinasi antar frekuensi sangat penting.

  1. Manajemen Baterai Yang Buruk

Walaupun kenyataannya baterai yang digunakan pada transmitter merupakan hal sangat penting dalam penggunaan wireless mic, tidak jarang pengguna menggunakan baterai murahan demi menghemat uang. Sebagian besar pabrikan mensyaratkan alkaline atau lithium baterai karena output voltase stabil dengan daya tahan baterai yang bagus. Ini sangat penting, karena transmitter akan mampu mengatasi distorsi suara atau sinyal yang menurun ketika voltase rendah. Baterai yang dapat di isi ulang (rechargeable battery) tampaknya solusi ideal, tapi kebanyakan hanya 20 persen dari daya maksimum walaupun dalam kondisi penuh.

Untuk mengatasi masalah baterai, hati – hati dalam membandingkan voltase transmitter yang dibutuhkan dengan output voltase pada baterai untuk menjamin baterai mampu bertahan sepanjang acara. Untuk penggunaan 9 Volt, jenis baterai lithium-ion akan bekerja ideal. Sedangkan jenis baterai Ni-Mh dan Ni-Cad hanya akan bertahan beberapa jam saja. Untuk penggunaan AA, Ni-Mh rechargeable battery menawarkan performa yang sama dengan sebuah baterai alkaline.

wireless microphone

source : shure.com

Penggunaan baterai isi ulang memang cara yang pas untuk menghemat uang selama mampu secara efektif mengaturnya. Selalu copot baterai dari transmitter setiap selesai digunakan. Ini akan mencegah baterai yang digunakan dalam kondisi yang tidak penuh dan juga mencegah kebocoran baterai yang akan merusak transmitter.

 

  1. Set Up Gain Yang Tidak Sesuai

Mengatur input gainmerupakan penyesuaian yang sangat penting pada microphone wireless. Distorsi akan terjadi apabila gaindi atur terlalu tinggi, dan signal-to-noiseburuk ketika gain di set up terlalu rendah. Sebagaian besar wireless system memiliki gain control pada transmitter. Hal ini akan membantu berpikir kalau gain control berfungsi sama sebagai “trim” atau “gain” pada mixer, yaitu bertujuan untuk mengatur sensitivitas input serendah mungkin untuk mencegah input overload atau “clipping” tapi cukup tinggi  di atas system noise floor.

Pengaturan pada gain pada transmitter wireless sama pada mixer input gain, yaitu atur gain control setinggi mungkin hingga tepat sebelum indikator nyala merah (peak atau overload). Untuk wireless system indikator ini biasanya pada receiver, sehingga perlu di cermati bagian depan reciver ketika digunakan. Jika indikator peak dan terus kedap kedip, kurangi gain pada transmitter hingga nyala pada indikator nyala atau kedap – kedip hanya sesekali. Jika lampu indikator tidak kedap – kedip, tingkatkan gain hingga hanya berkedip pada batas sebelum sinyal akan tinggi.

wireless microphone

sennheiser wireless microphone transmitter

Banyak wireless mic memiliki output level control pada receiver. Akan tetapi karena control ini hanya akan berpengaruh pada receiver output, maka itu tidak akan memiliki pengaturan gain yang sesuai pada transmitter. Oleh karena itu, jika terjadi distorsi atau signal-to-noise yang buruk pada transmitter, maka hal tersebut tidak dapat diperbaiki dengan merubah level receiver output. Sebagian besar profesional merekomendasikan membiarkan hal ini pada control maksimal. Selama input pada mixer mampu mengakomodasi level ini, keseluruhan system akan berjalan pada dynamic range sebaik mungkin.


Sumber : Shure Worldwide, Sennheiser electronic GmbH & Co

Integrasi audio visual dan teknologi informasi

Peranan teknologi informasi dalam merubah landscape industri Audio Visual

Integrasi audio visual dan teknologi informasi

Perkembangan industry A/V (Audio Visual) saat ini tidak dapat dipungkiri semakin IT-sentris. Integrasi audio visual dan teknologi informasi memberikan kemudahan bagi industri A/V dalam menawarkan solusi terbaik bagi customer.

Efisiensi biaya segalanya bagi customer, dan perkembangan teknologi informasi ikut mendorong industri Audio Visual memberikan solusi yang selalu dapat menyesuaikan kebutuhan customer tanpa harus menambah infrastruktur, peralatan, juga tanpa harus ribet mengatur segala sesuatunya secara terpisah.

Dengan solusi Audio Visual system yang terpusat, kebutuhan customer yang senantiasa berubah dapat disesuaikan dengan lebih fleksibel (scalable systems). Dalam hal inilah integrasi audio visual dan teknologi informasi berperan.

Pada awal perkembangannya, ada rasa khawatir dan ketidaknyamanan bahwa teknologi informasi dalam Audio Visual system memberikan kerumitan baru bagi end users dalam proses operasional dan perawatan. Namun, semua itu semakin memudar.

Perubahan ini karena teknologi informasi memainkan peranan yang sangat besar dalam kehidupan kita saat ini. Mulai dari wireless headphonemusic streaming hingga komunikasi melalui perantara aplikasi (via app-based interface). Penerimaan ini merefleksikan bagaimana industri IT terus bergerak dan membawa industry Audio Visual mengikuti jejaknya.

 

Audio Visual installation

Crestron Automation AV Solution

 

Kita sudah melihat perkembangan teknologi informasi yang semakin massive terutama perkembangan Big Data dan Internet of Things (IoT), dimana perangkat, orang dan informasi / data terhubung satu sama lain dan meningkatkan efisiensi, akurasi, user experience dan yang paling penting, ekonomis—economic  result.

Dan bicara Big Data dan IoT, perkembangan cloud systems punya pengaruh cukup besar pada perkembangan industri Audio Visual.

 

Audio Visual

Big Data dan IoT

 

Industri Audio Visual mulai berkembang menjadi cloud hosting. Digital signage salah satu contoh paling ideal bagi cloud hosted A/V, karena penggunaan dan kebutuhan integrasi Audio Visual system yang sama namun pada lokasi yang berbeda – beda.

Mulai dari gedung perkantoran hingga Airport merupakan contoh integrasi audio visual digital signage paling ideal menggunakan cloud systems.

audio visual

Digital Signage Diagram

 

Walaupun popularitas perkembangan teknologi IT kaitannya dengan cloud systems dalam Audio Visual industri dimulai melalui digital signage, akan tetapi integrasi Audio Visual yang lain akan menyusul dengan cepat.

How Loudspeakers Work?

How Loudspeaker work? Loudspeaker having a variety of shapes and sizes, allowing you to listen to music during a concert, or listen to sermons and religious ceremonies, listening to earphones / headphones on your iPod, enjoy a movie or hear a friend’s voice over the phone, etc.

To convert electrical signals into audible sound, loudspeaker contains an electromagnet: a metal coil creates a magnetic field when an electric current flows through it.

Loudspeaker Diagram, coil and magnetic

Loudspeaker Diagram, coil and magnetic

 

Loudspeaker parts :
1 . Cone
2 . Electromagnet ( coil )
3 . permanent magnet

 

 

 

 

 

On the loudspeaker, the electromagnet is placed in front of a permanent magnet. Permanent magnets will remain in the position-not moving while the electromagnet mobile. Since the electric current through the electromagnet coil, the magnetic field direction will change and there will be vibration due to tensile departure from the permanent magnet.

Electromagnet connected with Cone made ​​from flexible material that will reinforce this vibration, pumping sound waves into the surrounding air, and can be heard in your ear .

To reproduce all the different frequencies of sound, the best quality loudspeaker cones usually use different sizes depending on the frequency of high, medium or low .

Microphone uses the same mechanism with Loudspeaker in inverted condition to convert sound into electrical signals. In FACT, you can use a pair of headphones as a microphone ! ‘ve Ever tried ? ?

www.suaraproaudio.com
——————————————-