Free songs
  • RSS feed
  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
 
Category Archives:

Education

Home » Blogs » Education
8 Mitos Tentang Headphone Yang Perlu Diketahui

8 Mitos Tentang Headphone Yang Perlu Diketahui

Saat teknologi melengkapi bahkan membentuk gaya hidup, headphone pun menjadi kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dan menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat millenial.

 

lifestyle Headphone

Amber Marie Barker with Audio Technica ATH-SR5 Headphone. Source : ambermariebarker.com

Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup—lifestyle dalam beberapa tahun belakangan mendongkrak popularitas headphone ke arah yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.  Hal ini juga yang mendorong semakin banyak perusahaan terjun ke pasar ini.  Baik yang udah eksis sampai perusahaan yang bner – bner baru.

Semakin kesini jumlah dan jenis headphone makin gak karuan dan efeknya mitos – mitos tentang headphone datang tanpa diketahui yang mana kebenerannya, sehingga menggoyahkan keteguhan iman jiwa – jiwa yang rapuh. 👼

Konsumen semakin dibuat bingung dengan segala macem retorika pemasaran, dengan tujuan agar konsumen gak segan – segan keluar duit lebih banyak, bahkan juga sering lebih sedikit (murah-an) dibandingkan yang seharusnya, tanpa tau kualitasnya, namun pada akhirnya lebih sering dikecewakan.

Sebenarnya tanpa dipengaruhi jumlah propaganda pemasaran yang massif pun, banyak mitos timbul ketika kaitannya dengan banyaknya aspek soal headphone.

Berikut 8 Mitos Tentang Headphone Yang perlu diketahui :

  1. Headphone Bermerek Pasti Lebih Bagus

“Kata siapa?” Gak mesti selalu dan di pukul rata kok. Jangan mentang – mentang bermerk trus bisa dibilang pasti semuanya bagus.  Tapi yang pasti brand ternama punya anggaran lebih banyak untuk pemasaran sehingga penetrasi pasar yang merajalela.

Sebagai contoh lebih banyak headphone yang lebih bagus bila dibanding Beats yang sangat mempesona.  Bagi yang bukan pecinta audiophile, jarang yang tau ada perusahaan yang bikin headphone gokil kaya HIFIMAN, STAX, AUDEZE, dan lainnya.

Hi Fi Headphone

Audeze LCD-3. Source : Audeze

  1. Headphone Lebih Mahal Pasti Lebih Bagus Dan Lebih Tahan Lama

Ada harga ada rupa. Idiom beken ini kemungkinan gak berlaku mentah – mentah juga. Bisa dibilang korelasinya gak banyak juga. Kata “pasti” dan “selalu” kedengaran terlalu absolut. Yang lebih mahal pasti lebih bagus, “biasanya” iya, tapi gak selalu juga.

Banyak yang headphone murah tapi punya material gak murahan dan sebaliknya ada headphone mahal, tapi di liatnya aja bikin ngilu, rapuh, lemah kaya abis di putusin pacar. Literally banyak juga kok headphone which is punya design boring gak update, and cheaper, but sound amazing dibanding sama well designed expensive headphone (anak jaksel). 😀

Selain itu, seperti dijelaskan di bahasan Apakah Anda Rela Kehilangan Uang Demi Kualitas Suara Yang Bias?, selera pribadi dan faktor psikologis—subyektifitas, menjadi salah satu alasan bahwa gak semua headphone ber-merk dan lebih mahal pasti bakal cocok dengan semua orang.

  1. Semua Headphone Pasti Terdengar Sama

Idealnya iya. Klo kita hidup di alam utopia dimana tiap produsen headphone memakai tolok ukur yang sama soal akurasi suara. Kenyataannya gak sama sekali. Beda antara headphone yang satu dengan yang lain oleh orang awam sekalipun pasti terdengar jelas. Dalam beberapa jenis headphone memang ada yang susah dibedain, tapi itu langka banget bakal kejadian. Bahkan di headphone murah pun, perbedaannya cukup banyak.

  1. Tiap Bentuk Dan Design Headphone Pasti Pas Di Semua Orang

Pastinya gak juga. Kuping tiap orang bisa dibilang kaya sidik jari yang pastinya jadi beda satu sama lain. Dan yang utama klo ukurannya gak pas, apalgi in-ear headphone, walaupun headphone yang bener – bener bagus dan mahal, jadi percuma karena bakal gak kedengaran maksimal.

8 Mitos Tentang Headphone Yang Perlu Diketahui

Struktur Telinga. Source : visualdictionaryonline.com

 

  1. Semua Headphone Punya Volume Yang Sama

Walaupun kedengerannya gak jadi masalah, tapi yang perlu di ketahui klo ada beberapa headphone yang nyaman didengerin saat volume pada player cuma 50% tapi ada yang baru enak pas volume udh hampir mentok. Hal ini dipengaruhi faktor efisiensi sebuah headphone.

  1. Yang Namanya Noise-Cancelling Headphone Bikin Semua Suara Diluar Lenyap Seketika

Sedihnya, gak juga tuhh. Mengurangi sebagian besar frekuensi rendah dan suara bising kaya suara derungan mesin, angin dan jalanan memang bner. Tapi gak ngaruh buat frekuensi tinggi seperti suara bocah  jerit, bayi nangis atau suara pembicaraan orang sekitar.

noise cancelling headphone

Noise Cancelling Headphone Work. Source : afd-techtalk.com

  1. Semua Noise-Cancelling Headphone Sama

Pastinya gak lagi. Gak cuma karena iklannya banyak, designnya kliatan bagus apalagi harganya mahal jadi bikin noise cancelling-nya sempurna paripurna. Kebanyakan malah gak karuan.

Dalam hal ini produk ternama seperti Bose jadi salah satu yang terbaik karena inovasi dan paten teknologi noise cancelling-nya yang makin canggih. Atau Sony yang punya chip khusus noise cancelling.

sony headphone

Sony Noise Cancelling Chip. Source : Sony

  1. Noise-Cancelling Dan Noise Isolating Headphone Fungsinya Sama

Dengan jelas saya katakan, “Tidak.” Sederhananya, noise cancelling headphone kerjanya khusus frekuensi rendah dan konsisten kaya suara mesin pesawat, deru angin, jalanan macet. Sedangkan noise isolating headphone bekerja ideal (mengurangi) frekuensi mid dan high. Jadi agan/aganwati jangan sampai salah pilih.

Semoga bermanfaat.

surround bluetooth speaker

Apakah Anda Rela Kehilangan Uang Demi Kualitas Suara Yang Bias?

Sejumlah alasan kebanyakan pembeli headphone dan speaker lebih memilih produk yang tidak terdengar akurat namun lebih kepada kualitas suara yang bias.

 

Popularitas produk seperti soundbars, iPod dock, dan Bluetooth speaker yang semakin kecil ukurannya, semakin men – shahihkan fakta bahwa sebagian besar konsumen tidak terlalu tertarik untuk membeli perangkat audio yang benar – benar memberikan kualitas suara terbaik. Faktor lainnya, seperti ukuran yang kompak sehingga mudah di bawa – bawa (portable) dan dengan sejumlah fitur – fitur anyar, lebih di utamakan bila dibandingkan dengan kualitas suara yang akurat.

alasan pembeli headphone dan loudspeaker memilih produk terdengar tidak akurat

soundbars & iPod Docks

Format audio digital, contohnya, mungkin lebih memiliki respon frekuensi akurat dibandingkan format audio analog. Tapi Piringan hitam—Long Playing (LP/vinyl record) jauh terdengar lebih baik dibandingkan CD. Merekam suara lebih baik, terdengar lebih hidup dan realistis dibandingkan segala jenis format audio digital. Tapi balik lagi, tiap orang mungkin punya ‘selera’ yang berbeda.

alasan pembeli headphone dan loudspeaker memilih produk terdengar tidak akurat

Bob Dylan : Blonde on Blonde Vinyl (Mono) 2LP. Source : Turntable Lab Inc.

Orang menganggap headphone sesuatu yang berbeda dengan speaker, tapi kebanyakan lebih memilih suara yang lebih nge-bass dibanding “flat”, atau model perangkat audio lainnya yang lebih terdengar akurat.

Ketika membandingkan suara yang dihasilkan headphone, anda mengharapkan bahwa semua jenis headphone terdengar sama akurat. Tapi itu bukan masalahnya. Baik Sennheiser dan Audio Technica sama – sama produsen headphone terkemuka dengan reputasi mentereng selama puluhan tahun.

Akan tetapi jika akurasi suara tujuan utamanya, maka semua produk headphone high – end, dari semua produsen headphone, harusnya terdengar sama. Namun kenyataannya sangat berbeda. Sennheiser HD 700 terdengar cukup berbeda dengan Audio Technica ATH – M70x.

sennheiser headphone

Sennheiser HD 700. Source : tonepublications.com

Bahkan Audio Technica memiliki berbagai jenis headphone dengan kebutuhan / selera pasar yang berbeda – beda. ATH – M50x untuk professional monitor headphone dan ATH-WS1100iS dengan karakter sangat nendang frekuensi bassnya. Bahkan untuk Beats Solo3 Wireless headphone terkenal dengan headphone paling stylish—yang sama sekali saya gak ngerti apa hubungannya dengan detail suara 😕.

Beats Headphone

Beats Solo3 Wireless. Source : Apple–Beats Audio

Paling tidak ada sejumlah alasan kenapa tolok ukur akurasi suara ini gagal menghubungkan dengan penilaian akan kualitas suara. Pertama, tolak ukur sangat sedikit berhubungan dengan suara dari sebuah musik, dan headphone dengan tolak ukur kualitas suara yang lebih baik tidak selalu berhubungan dengan preferensi kualitas suara kebanyakan pengguna.

Tes tones terlalu sederhana dan mudah diprediksi, sedangkan musik terlalu kompleks dan acak. Mereproduksi suara yang riil dari sebuah violin atau drum kit merupakan tugas yang sangat sulit. Dan sejak tujuan utama perangkat audio hi – fi memainkan musik bukan tes tones, maka prioritas utama seorang perancang yaitu membuat produk yang terdengar enak sesuai segmen pasar yang ditujunya.

“Suara enak” jadi kata yang langka bila dihadapkan pada subjektivitas tiap orang. Bagi beberapa pengguna tolok ukur / spesifikasi pada headphone digunakan sebagai langkah obyektif untuk menentukan headphone mana yang lebih akurat.

Dan jika akurasi atau detail suara yang jadi patokannya, maka Etymotic ER-4PT in-ear headphone, yang harganya jauh lebih murah dibandingkan Sennheiser HD 700, seharusnya laku keras di pasaran. Tapi ironisnya hal ini tidak terjadi. Kebanyakan pembeli lebih menginginkan karakter headphone yang lebih nge-bass, lebih nendang, lebih stylish, dan sensasi subyektif lainnya.

in-ear headphone

Etymotic ER-4PT. Source : head-fi.org

Dan menjadi dilemma lainnya ketika kualitas audio musik yang sering kita dengarkan sudah mengalami kompresi yang juga sangat over, sehingga tidak akan secara otomatis musik tersebut akan terdengar lebih baik pada hi – fi headphone. Hal ini sama saja seperti mengharapkan film animasi akan terlihat nyata dan lebih realistis pada HD – TV. Tentunya hal tersebut tidak akan pernah terjadi.

Bisa dibilang semua produsen tunduk dan patuh pada tolok ukur yang dipakai dalam membuat produk – produk yang akurat. Akan tetapi mereka juga sadar kalau produk tersebut tidak laku di pasaran.

Mungkin karena itu konsumen ingin jaminan kalau produk yang akan mereka beli akurat. Tapi semuanya jadi gak ada artinya, kosong, hilang makna, ketika kebanyakan para konsumen menggunakan produk tersebut lalu mendengar seperti apa yang dimaksud kualitas suara yang detail, akurat. Namun tidak sesuai dengan ‘ekspektasi’ mereka.

Like a legend said :

“I put one on the turntable and when the needle dropped, I was stunned – didn’t know whether I was stoned or straight.”

—Bob Dylan

 

Audio Technica

Yang Perlu Anda Tahu Tentang Istilah dalam Audio Dan Hubungannya Dengan Karakter Headphone Dan Loudspeaker

Bagaimana otak memainkan peranan sangat penting dalam memilah dan memilih karakter suara pada perangkat audio yang sesuai dengan preferensi tiap orang. Dan memanfaatkan sebagai cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai.

 

“Terasa gak klo nih headphone karakternya kebangetan “bright”? Jadi lama – lama bikin kuping sakit?”

“Gw sih lebih milih karakter headphone yang “warm”?”

Buat yang baru mulai atau bahkan udah engeh audio, istilah kata “bright”, “warm” di atas pasti sudah cukup familiar di dengar. Nah yang jadi pertanyaan, apa arti sebenernya istilah yang terdengar canggih nan terdengar intelek ini? Maksudnya apa? menjelaskan soal apa? Dalam bahasan kali sini akan dijelaskan lebih jauh, walaupun tidak terlalu teknikal.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Audio Technica ATH-M50x. Salah satu headphone favourite sejuta umat. Source : Audio Technica

Bright

Bright” bisa dibilang kebalikan istilah / arti dari “warm”. Peralatan audio yang terdengar “bright” menghasilkan kualitas suara di nada tinggi (high-pitched sounds). Istilah lain untuk menggambarkan istilah kata ini, yaitu seperti “Crisp” dan “Clarity”.

Headphone yang terlalu bright, biasanya membuat telinga terasa lelah sehabis digunakan dalam waktu agak lama. Karena suara / nada tinggi akan terasa mengganggu, dan bila terlalu kencang, kita akan mengalami iritasi pada telinga tanpa sadar sebabnya.

 

Warm

Istilah ini yang paling familiar di kalangan pecinta audio newbie (pasar audio komersil) sekarang. Istilah warm punya karakter dengan frekuensi suara bass yang tebal, musikal.

Bahkan yang lebih ekstrim, karena selera pasar (komersil), karakter warm dibuat semakin over frekuensi bassnya. Bahkan soundbars (all-in-one speaker systems), cenderung memiliki karakter warm. Bose, Jbl, dan yang paling popular yaitu Beats Audio, mampu membentuk ceruk pasar ini dengan menghasilkan produk  yang tepat dengan selera pasar.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Beats by Dre

Neutral

Seperti perkataan orang tua, dalam hidup tetap netral merupakan pilihan bijaksana. Pilihan ini akan jauh masalah dan membuat kita mampu melihat segala sesuatu dari dasarnya. Dan biasanya juga pilihan bagus karena jauh dari bias.

Dan bicara soal audio monitoring—headphone dan / speaker, netralitas jadi pilihan terbaik. Konsep tentang audio yang netral atau bahasa canggih lainnya, uncoloured audio, lebih dulu eksis.  Setidaknya bagi kalangan audiophile yang melakukan segala daya dan upaya mengejar kemurnian cinta—audio. Netral juga bisa dibilang sebagai implikasi tengah – tengah ketika warm terlalu tebal (nge-bass) namun sedikit treble dan bright suara menjadi terdengar tipis.

Sebenarnya headphone atau speaker setidaknya mampu menghasilkan  frekuensi suara yang mampu menjangkau wilayah indera pendengaran yang saat ini sudah terukur. Dan pastinya hukum fisika membuat hal ini jadi sangat sulit. Sederhananya tiap headphone atau speaker mempunyai driver (hardware) yang sangat tergantung dengan bentuk / desainnya, sebagaimana tiap suara manusia terdengar berbeda satu sama lainnya.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Genelec Studio Active Monitoring. Source :  Genelec Oy

Untuk speaker lebih mudah untuk ‘mengejar’ netralitas ini dengan mengakalinya menggunakan beberapa cara. Salah satunya menggunakan beberapa ukuran speaker dalam sebuah ruangan, dengan tiap speaker spesifik untuk menghasilkan frekuensi audio tertentu.

Sedangkan bagi headphone, pastinya jauh lebih sulit. Bahkan bagi headphone paling mahal sekalipun pastinya mempunyai kelebihan pada frekuensi tertentu. dan kelemahan pada frekuensi lainnya. Dan kebanyakan headphone paling popular di kalangan professional yang cenderung punya karakter ‘bright’ justru menjadi minus bagi konsumen awam.

Cara memilih karakter headphone dan loudspeaker yang sesuai

Oswalds Mill Audio (OMA) Showroom. Source : OMA world’s finest high fidelity equipment

Bagi komunitas audio hardcore yang serba perfeksionis, semua bahasan ini agak sensitive karena banyak perdebatan tentang istilah karakter suara ini. Salah satu ungkapan cukup eksentrik soal ini kurang lebih bunyinya seperti ini :

“Prinsip dasar dari hi-fi system yaitu bisa membuat penggunanya menikmati rekaman musik di rumah. Akurasi memang sangat didambakan, tapi itu semua jadi tidak relevan kalau tidak bisa membuat emosi tersalurkan. Siapa yang peduli perangkat audio ‘akurat’ atau tidak, kalau tidak dapat dinikmati lama – lama? Itu semua tidak ada artinya kalau tidak bisa buat seluruh tubuh bergoyang.” 💃🏻💃🏻

John Atkinson, “The Acoustical Standard Part 2” Stereophile 1988

 

Yang paling simple, cobalah segala macam jenis headphone atau bahkan speaker yang ada di pasaran, dan cari yang paling pas dengan selera dan pastinya sama isi kantong Anda.

Acuannya sederhananya kurang lebih seperti ini, mau dengar musik dengan suara yang lebih renyah? Mau dengar tiap nada pas pada tempatnya, dan tiap detail kecil instrument akustik terdengar? Kalau seperti itu, maka lebih pas headphone dengan karakter bright, tau menambahkan tweeter pada setup speaker.

Hanya saja yang paling penting jangan memaksakan gendang telinga terus – menerus mendengar frekuensi tinggi ini. Karena akibatnya seperti telah dijelaskan pada artikel Penggunaan Headphone Yang Sesuai Tanpa Menyakiti Telinga, akan sangat bahaya resikonya. Karena karakter bright pada headphone cenderung terasa lebih lebar. Hal ini dikarenakan otak manusia lebih mudah nge-lokalisasikan frekuensi tinggi dibandingkan frekuensi rendah. Contoh sederhananya, tidak berpengaruh banyak buat subwoofer mau diletakan di mana dalam sebuah ruangan.

Sedangkan bila mau karakter yang lebih tebal, bass terasa menendang, atau headphone terdengar terasa seperti di bioskop, atau suara penuh kehangatan layaknya sang kekasih😍, maka headphone  dengan karakter warm yang paling cocok.

Pada intinya, layaknya pasangan, tidak ada headphone bahkan speaker yang benar – benar sempurna untuk segalanya. Dan jangan sampai ketidaksempurnaan ini jadi bikin kita frustasi. Karena tiap orang punya pilihan dan selera personal yang berbeda – beda. Sing penting ojo do gontok – gontokan ✌.

Semoga artikel kali ini bermanfaat walaupun bahasa untuk menjelaskan istilah teknisnya cukup sulit. Setidaknya saya berusaha sebaik mungkin untuk Anda😎. Tidak mudah mengungkapkan perasaan emosi yang terlalu dalam ke dalam sebuah kata, dan selalu, cara terbaik untuk mendapatkan kejujuran yaitu dengan mendengarkan sendiri baik – baik.

 

sony wh-1000X M3

Ini Hal Yang Perlu Anda Tahu Mengenai Update Teknologi Wireless Headphone

Perkembangan wirelees headphone saat ini di dorong dengan semakin berkembangnya gaya hidup yang menuntut produsen headphone memberikan inovasi yang menunjang era milenial saat ini.

 

Pada perhelatan IFA Berlin tahun ini (2018), produsen headphone melakukan perubahan cukup radikal yang menjadikan pasar wireless audio semakin sexy. Dilengkapi dengan USB-C, voice assisstants, dan daya tahan baterai lebih tahan lama, wireless headphone 2018  membuat headphone 2017 layaknya headphone ketinggalan jaman. Berikut updatenya :

 

USB-C

wireless headphone

Saat ini semua wireless headphone dan earphones yang dipamerkan pada perhelatan IFA Berlin 2018 sudah dilengkapi dengan port charging USB-C. Contoh paling anyar wireless headphone Sony 1000X M3, yang pastinya akan membuat pemilik generasi wireless headphone Sony 1000X sebelumnya menyesal. Selain Sony dengan teknologi USB-C, merk lainnya seperti Sennheiser tipe Momentum True Wireless earbuds dan headphone Bayerdynamic tipe  Lagoon juga sudah menggunakan USB-C. Sedangkan Audio Technica masih tetap menggunakan MicroUSB, yang cepet atau lambat akan menjadikan USB-C sebagai standart seperti produk lainnya.

 

Voice Assistant

Bose QC35 IIs pioneer update fitur asisten pribadi dengan membuat tombol khusus untuk mengaktifkannya. Sony 1000X, Sennheiser Momentum True Wireless dan Bayerdynamic Lagoon sekarang sudah dilengkapi voice assistant dari Siri dan Google (Google assistant). Ketiga tipe wireless headphone ini bisa dikatakan sebagai kiblat teknologi headphone masa depan. Karena mampu menjawab perkembangan teknologi.

 

Sony wh1000xm3

sony wh-1000xme with google assistant. source : sony.com

Saat ini wireless headphone secara sederhana mampu terkoneksi dengan smartphone. Tapi ke depannya akan lebih banyak perusahaan yang akan mencoba menjadikan wireless headphone semakin terintegrasi sebagaimana jam tangan berevolusi menjadi lebih pintar—smartwatch. Hal ini semakin membuktikan bagaimana integrasi industri audio visual dan teknologi informasi saling memberikan peranan dalam menjawab tantangan jaman.

 

Long life The Battery

Sony 1000x menjamin 30 jam umur baterai itupun dengan fitur noise cancelling selalu aktif, sedangkan Beyerdynamic Lagoon mampu bertahan seharian—24 jam dengan mode yang sama. Tanpa mode noise cancelling (off), Bayerdynamic Lagoon sanggup bertahan selama 46 jam. Sedangkan dengan mode noise cancelling (off), Sony 1000X mungkin bisa dibilang tidak akan kehabisan daya.

sony headphone

sony noise cancelling chip. source : sony.com

Selain itu teknologi noise cancelling pada wireless headphone Sony semakin canggih sehingga jauh lebih efektif. Bicara umur baterai Sennheiser Momentum True Wireless yang ‘cuma’ 12 jam bila dibandingkan Sony dan Beyerdynamic pastinya terasa sangat singkat. Tapi bila dibandingkan dengan design dan kenyamanan, Sennheiser sepertinya lebih unggul.  Simple namun canggih. Plus untuk sekelas Sennheiser pastinya kualitas suara yang dihasilkan  sudah tidak perlu diragukan seperti hal nya dengan Sony atau Beyerdynamic. Sehingga sangat nyaman bila selama 12 jam mendengarkan musik dengan kualitas audio yang bermutu dan memberikan pengalaman terbaik bila dibandingkan mendengarkan musik cukup lama bahkan sampai berpuluh  – puluh jam namun tidak memberikan kenyamanan.

 

Desain Berkelas

Beberapa tahun lalu melihat bentuk dan desain dari jenis – jenis headphone tidak mengalami perubahan signifikan. Masih dengan cangkang lebar, kaku, tidak pas di telinga, dan terdengar seperti semua dipaksakan, terutama bass yang over dan treble yang tipis.

Headphone saat ini semua semakin berlomba – lomba agar semakin terlihat stylish dan modis karena sebagai lifestyle. Headphone seperti Beyerdynamic contoh paling shahih bagaimana desain headphone dibawa ke tingkatan baru. Dengan lampu LED di dalam cangkang headphone yang mengindikasikan status aktif. Tidak  ada lagi notifikasi biru LED yang kedap – kedip yang pastinya sering mengganggu.

beyerdynamic lagoon

Beyerdynamic lagoon. source : Beyerdynamic Europe

Ketika kota semakin berkembang, di dukung dengan sarana transportasi yang semakin terintegrasi, akan semakin lebih banyak orang menggunakan sarana transportasi massal hingga perkembangan live streaming (podcasting, vlogging), mendorong teknologi headphone berpacu dengan tuntutan jaman dengan cara yang kita harapkan dari industry teknologi yaitu dengan memberikan inovasi dan kualitas terbaik.

Semoga bermanfaat …

latency ms

Penyebab dan Cara Mudah Mengatasi Latency Pada Saat Live Streaming Dan Proses Produksi Di Studio

Ketika waktu adalah segalanya

Banyak penyebab latency beberapa di antara di bahas artikel ini, tapi saat di runutkan lebih jauh, semuanya merujuk pada persoalan waktu. Apakah rekaman melalui DI guitar dan bass, miking voice over atau alat musik, akan ada delay ketika antara nada di mainkan atau dinyanyikan, dan ketika didengar melalui monitoring (speaker dan headphone).

 

Pada saat menggunakan perangkat audio digital, seperti usb microphone, kadang kita mengalami penundaan (delay) mulai saat kita mengeluarkan suara ke microphone lalu pada saat mendengar audio melalui speaker komputer atau headphone. Saat kita mengeluarkan suara melalui USB microphone, sinyal analog yang tertangkap oleh komponen dalam microphone butuh waktu untuk di konversi menjadi signal digital agar perangkat komputer dapat membacanya. Setelah komputer mampu membaca sinyal tersebut, dibutuhkan lagi waktu untuk di konversikan kembali menjadi sinyal analog agar bisa didengarkan melalui speaker dan / headphone.

latency

Penundaan yang di alami ini di sebut “latency”. Latency pada dasarnya sejumlah waktu yang dibutuhkan sinyal digital (audio) untuk diterjemahkan. Ini terjadi pada setiap perangkat digital audio dan berhubungan dengan konversi analog – digital / digital – analog (AD/DA). Karena konversi ini membutuhkan waktu, kita sebagai pengguna akan mengalami latency.

 

Tentu, latency bukan hal unik bagi perangkat digital audio—hal ini terjadi secara alamiah tiap saat. Secara matematis, latency terjadi dengan perkiraan 1 ms untuk setiap 1.1 ft  (0.33528 m) suara untuk melakukan perjalanan. Jadi, pada 11 ft (3.3528 m) perkiraan kita mengalami latency selama 10 ms, yang merupakan jumlah / waktu latency yang dapat di deteksi oleh manusia.

 

Dengan digital audio, latency biasanya di asosiasikan dengan USB microphone, USB Turntables dan perangkat digital recording (interfaces). Akan sangat susah untuk memprediksi berapa banyak latency yang akan kita alami pada suatu perangkat, hal ini di karenakan komponen yang digunakan untuk memproses sinyal digital audio cukup banyak. Mulai dari jenis perangkat, komputer hingga software recording yang digunakan menjadi faktor yang akan menentukan latency.

audio latency

Secara alami  terjadinya latency biasanya tidak terlalu menggangu atau menyebabkan masalah serius. Akan tetapi latency pada digital audio, terutama saat di alami Mic USB, cukup menyebalkan dan merusak fokus. Sedangkan pada Turntables USB latency seringnya tidak terdeteksi kecuali kita sangat dekat dengan perangkat turntables hingga terdengar suara (noise) dari permukaan piringan hitam yang sedang diputar. Kita bisa mengurangi kecepatan kita ketika berbicara melalui microphone untuk mencoba menyamakan suara yang kita dengar melalui speaker komputer dan / headphone. Namun hal ini tidak hanya cukup melelahkan, tapi juga memakan waktu produksi. Akan tetapi banyak solusi untuk masalah ini.

latency ms

Berhubungan dengan kemampuan komputer yang semakin cepat dalam memproses data, software recording yang digunakan diharapakan mampu mengkompensasi latency melalui audio / playback “buffer”, yang dapat di atur pada program recording bagian “preferences”. Secara umum, semakin panjang waktu buffer (yang akan menyebabkan lebih banyak latency) memberikan perangkat komputer waktu lebih banyak untuk memproses audio, yang pada akhirnya mengurangi kesalahan potensial. Dan sebaliknya, waktu buffer yang lebih singkat (sedikit latency) berarti waktu proses audio pada komputer semakin cepat, tapi hal ini akan menyebabkan kesalahan potensial pada saat recording. Pelajari buku manual petunjuk penggunaan dari software recording untuk mengurangi latency. Hal lainnya yang dapat dilakukan agar komputer dapat memproses audio secara efisien yaitu dengan menutup aplikasi lainnya pada saat recording. Hal ini ini juga mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan (error).

bluetooth latency

Cara lainnya untuk mengurangi latency pada saat menggunakan Mic USB dengan memakai mic yang memiliki output headphone. Hal ini berguna untuk langsung me-monitor audio, sebelum latency terjadi (zero latency monitoring). Beberapa mic seperti Blue Yeti dan Audio Technica AT2020USB+ sudah dilengkapi headphone jack. Untuk mengatur komputer bekerja sesuai dengan output headphone membutuhkan akses pada pengaturan suara (sound setting) dan mengatur input perangkat USB audio / recording dan membuat default soundcard komputer menjadi perangkat output / playback. Lengkapnya silakan pelajari petunjuk penggunaan pada perangkat USB Audio dan software recording untuk instuksi lebih jauh.

 

Semoga bermanfaat …

Audio Setup

4 Tips Sederhana Menghasilkan Kualitas Audio Yang Optimal Untuk Live Streaming

Banyak pertanyaan mengemuka saat kita berbicara apa dan bagaimana mempersiapkan (setup) audio yang optimal  untuk  live streaming ( vlogging, podcasting, webinar, etc ). Ketika membahas audio secara umum maka pilihannya tidak terbatas, dan artikel kali ini akan lebih berfokus kepada aspek audio, yaitu pemilihan dan penggunaan Microphone dan pendukungnya yang tepat pada saat live streaming.

Secara umum ada beberapa tips yang perlu dipertimbangkan agar presentasi efektif seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Namun kali ini hanya akan di bahas 4 tips sederhana menghasilkan kualitas audio yang optimal untuk live streaming tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

 

 

REKOMENDASI PERALATAN

Integrasi audio visual dan teknologi informasi  saat ini memberikan kemudahan  bagi kita dalam menentukan peralatan audio apa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan isi kantong kita. Namun di saat yang sama justru mendatangkan godaan bila kita tidak menetapkan batasan yang pas. Mulai dari perangkat seperti preamps, mixer, audio interfaces, dsb pilihannya tidak terbatas. Tanpa pengetahuan dan batasan yang jelas, kita akan sangat dengan mudah menghabiskan ratusan ribu bahkan s/d puluhan juta Rupiah hanya untuk Microphone.

Jadi saran saya tetapkan batasan, pilih dan coba. Terlalu banyak pilihan biasanya malah membuat kehilangan fokus pada tujuan presentasi / streaming, yaitu pesan tersampaikan dengan jelas. Jadi tetapkan apa yang ideal menurut style juga budget Anda.

Rekomendasi setup microphone paling dasar yaitu memberikan suara yang jernih  dan ‘warm’ tanpa ada gangguan paling tidak se-minimum mungkin dari suara latar yang tidak diinginkan. Yang kedua mudah digunakan, dan terakhir tidak menguras biaya.

Berikut panduan dasar setup audio untuk streaming :

1 Microphone

A. Tipe Microphone

B. Pola Diaphgram

C. Tipe Konektor

2.  Audio Interfaces

3. Aksesories

4. Lingkungan

 

  1. MICROPHONE

A. Tipe Microphone

 Semua microphone merupakan transducers, merubah suara menjadi sinyal electric. Dan yang paling umum digunakan untuk vocal yaitu Condenser dan Dynamic Microphone.

• Microphone Condensor

 

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Menggunakan daya kapasitor untuk menangkap sumber suara. Sangat sensitive dan biasa digunakan dalam studio karena memberikan suara lebih ‘warmer’ pada saat hasil rekaman. Dan membutuhkan -/+48v phantom power untuk digunakan, yang biasa di supplai oleh audio interface atau mixer. Kelebihan ini sekaligus juga memberikan kekurangan apabila digunakan pada ruangan yang secara akustik tidak ideal karena akan menangkap setiap suara yang terjangkau.

 

• Microphone Dynamic

 

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Microphone dynamic kebalikan dari cara kerja loudspeaker , yaitu menggunakan induksi magnetic untuk menangkap suara. Microphone jenis ini lebih kuat namun kurang sensitive dibandingkan microphone condensor. Penggunaanya tidak memerlukan extra power supply dan harus cukup dekat antara sumber suara dengan microphone. Itu kenapa lebih sering digunakan dalam live performance.

Sederhananya, jika membutuhkan akurasi dan kejernihan suara, microphone condensor lebih cocok digunakan. Bila ditambah dengan kondisi akustik ruangan dan penggunaan juga perawatan yang tepat akan memberikan hasil terbaik. Namun bukan berarti tipe microphone dynamic ‘haram’ digunakan pada streaming. Selain lebih murah, penggunaan yang tepat microphone dynamic dengan audio interface dan/ mixer yang memadai juga mampu menghasilkan suara yang baik.

 

B. Pola Microphone

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Figure no. 1

 

Microphone menangkap suara dengan pola yang berbeda – beda sesuai dengan fungsinya. Untuk vokal paling ideal pola cardiod ( bentuk hati—figure no. 1). Menangkap suara sangat direksional, yaitu suara yang keluar dari mulut sekaligus menolak suara dari samping dan belakang diaphgram microphone.

 

C. Konektor Microphone

Pertanyaan paling sering dikemukakan mana lebih baik microphone yang menggunakan XLR atau USB konektor? Pada dasarnya Microphone dengan XLR konektor jauh lebih ideal karena selain menjadi standar industri rekaman profesional, juga memberikan kemudahan dalam setting / adjustment hasil audio pada audio interface / mixer secara langsung dibandingkan mengotak – atik pada software di computer.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

XLR Microphone

Microphone dengan USB konektor lebih tepat bila dikatakan sebagai kompromi produsen Microphone dengan pasar consumer, di mana penggunaanya tinggal Plug n Play pada PC atau laptop. Saat ini kualitas Microphone dengan konektor USB pun semakin meningkat. Microphone AT2020USB plus dan Blue Yeti contohnya.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

USB Mic

Microphone USB bisa di bilang saat ini sudah memiliki nyaris semua kemampuan Microphone XLR, plus ditambah onboard sirkuit, power, dsb yang bagi vlogger pemula akan lebih mudah dan murah. Namun, untuk rencana jangka panjang, yang bisa memberikan ruang yang luas untuk upgrade, kemudahan dalam pengaturan dan menghasilkan kualitas suara yang ideal, maka Microphone dengan konektor XLR jauh lebih efektif dan efisien. Tapi semuanya balik lagi sangat tergantung pada kebutuhan dan budget masing – masing.

 

  1. AUDIO INTERFACES

Pada dasarnya audio interface merupakan external sound card dengan beberapa kelebihan seperti :

• Phantom power (+/- 48V) yang dibutuhkan Microphone XLR Condensor

• Memudahkan proses setting dan adjustment audio

• Memiliki pre-ampifier sehingga signal yang didapatkan microphone ideal. Semakin berkualitas • preamps, semakin baik kualitas suara yang dihasilkan.

• Merubah signal analog dari microphone menjadi signal digital agar dapat di proses PC / laptop.

• Mengurangi gangguan (interference) dari sirkuit internal pada computer sehingga mencegah signal mengganggu (noise).

• Upgradeable

Audio interfaces simple seperti Focusrite Scarlet 2i2 atau Presonus AudioBox USB atau budget Mixer seperti Yamaha MG10XU, Behringer Xenyx 802, hingga Mackie PROFX8V2 perlu dipertimbangkan.

 

3. AKSESORIS

Berikut beberapa aksesoris penting yang perlu dipertimbangkan untuk digunakan dengan Mic :

• Mic Arm / Stand  : Membantu fleksibilitas mic

• Shock Mount : Isolasi untuk mencegah getaran / goncangan pada mic.

• Pop Filter : Dibutuhkan bila merekam dengan posisi Mic dekat dengan mulut dan membantu  mencegah ledakan suara yang muncul akibat dampak mekanik dari udara yang bergerak cepat ke mic. Selain itu me-minimalisir efek plosive sound, dan juga menjaga kelembapan microphone sehingga lebih awet.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

 

4. LINGKUNGAN

Salah satu faktor paling penting namun paling sering dilupakan, yaitu kondisi lingkungan sekitar sangat mempengaruhi kualitas audio. Perangkat audio biasa saja dengan ruangan yang secara akustik ideal akan menghasilkan kualitas suara yang lebih baik dibandingkan perangkat High-End audio dengan akustik ruangan yang buruk.

4 tips sederhana menghasilkan audio yang optimal untuk live streaming

Sangat penting untuk testing & adjusting pada saat penggunaan microphone di sebuah ruangan. Coba berbagai posisi microphone yang paling ideal. Perhatikan suara sekitar seperti kipas pada laptop, AC hingga bunyi keyboard komputer. Gunakan peredam untuk mengurangi ‘echo’ dari suara yang memantul pada ruangan. Penggunaan carpet di lantai atau menggantung tirai dari bahan yang menyerap suara akan sangat membantu. Pointnya, banyak cara mudah dan murah untuk membuat ruang lebih acoustic-friendly.

 

KESIMPULAN

Menghasilkan kualitas audio yang baik tidak seharusnya menjadi beban tersendiri, terutama bila baru memulai vlogging, podcasting, webinar atau live streaming lainnya. Segala sesuatunya tidak langsung harus seperti studio profesional. Yang lebih penting audiens dapat memahami pesan yang ingin disampaikan dengan sedikit mungkin gangguan.

Hal yang perlu terus – menerus dilakukan yaitu mengetes level audio, membuat ruangan secara akustik se-ideal mungkin, dan setup microphone sesuai dengan situasi dan kondisi yang dibutuhkan. Karena microphone akan terdengar berbeda  antara orang yang satu dengan orang yang lain dan di antara ruangan yang berbeda – beda. Microphone hanya merupakan alat dan membutuhkan perangkat yang berbeda – beda untuk situasi yang berbeda pula. Itu kenapa sangat penting anda riset dan berusaha mencari microphone yang paling sesuai dengan karakter vokal, kebutuhan dan lingkungan sekitar.

Membeli perangkat audio merupakan investasi dan selayaknya sebuah investasi memerlukan riset dan pencarian yang tepat.  Dengan jumlah informasi yang tersedia di internet, tidak ada alasan bagi anda untuk tidak menggunakannya. Mengetahui apa yang paling pas bagi anda dan dengan sumber informasi yang tepat merupakan keahlian yang penting tidak hanya sebagai seorang vlogger, podcaster, dan profesi lainnya, tetapi juga dalam hidup ini 🙂

 

Semoga bermanfaat dan apabila ada saran dan rekomendasi produk lain, please let us know …

Blue Yeti Microphone

Surprising Benefits of Blue Yeti USB Microphone

Review Blue Yeti USB Microphone

 

Bicara USB Microphone dengan banyak keunggulan rasanya tidak lengkap bila tidak menyertakan microphone ini. Seperti AT2020USB+Blue Yeti terkenal sebagai salah satu yang terbaik bagi siapa pun yang membutuhkan jenis Mic USB yang  mampu menangkap kebutuhan 16-bit/48 kHz, sehingga memiliki multi fungsi sangat mumpuni baik untuk rekaman maupun untuk streaming (vlogging, podcasting, gaming, conference calls).

 

Blue Yeti Microphone

Dengan teknologi tiga kapsul dan empat pola setingan yang dapat di kustomisasi (cardiod, omnidirectional, stereo, bi-directional) di desain untuk memberikan kualitas suara yang kaya dan detail. Sedangkan fitur volume headphone, instan mute, dan analog microphone gain memberikan keleluasaan dalam pengaturan dalam proses rekaman.

Dilengkapi juga dengan konektor 3.5mm headphone jack memudahkan dalam monitoring tanpa zero-latency / delay.  Kemudahan dalam penggunaannya juga memberikan nilai tambah bagi mic ini. Cukup di colok ke port USB pada komputer—minimum 64 MB RAM, dengan kabel USB yang telah tersedia, lalu kalibrasi dengan sistem operasi pada komputer (Windows 10, 8, 7, Vista, Xp dan Mac OS X 10.4.11 atau lebih), maka Si Yeti ini siap digunakan.

Blue Yeti MicrophoneMic ini juga memiliki fleksibilitas karena dapat di lipat, putar dan disesuaikan sesuai kebutuhan.  Tersedia dengan pilihan warna untuk disesuaikan dengan selera dan pastinya harga yang bersahabat menjadikan Blue Yeti sebagai microphone USB dengan segala keunggulan bila dibandingkan  dengan kompetitornya.

 

 

 

 

 

SPESIFIKASI TEKNIS

MICROPHONE AND PERFORMANCE :

  • Power Required/Consumption: 5V 150mA
  • Sample Rate: 48 kHz
  • Bit Rate: 16-bit
  • Capsules: 3 Blue-proprietary 14mm condenser capsules
  • Polar Patterns: Cardioid, Bidirectional, Omnidirectional, and Stereo
  • Frequency Response: 20Hz – 20kHz
  • Max SPL: 120dB (THD: 0.5% 1kHz)
  • Dimensions (extended in stand): 4.72″ (12cm) x 4.92″(12.5cm) x 11.61″(29.5cm)
  • Weight (microphone): 1.2 lbs. (.55 kg)
  • Weight (stand): 2.2 lbs. (1 kg)

 

HEADPHONE AMPLIFIER :

  • Impedance: 16 ohms
  • Power Output (RMS): 130 mW
  • THD: 0.009%
  • Frequency Response: 15 Hz – 22 kHz
  • Signal to Noise: 100dB

 

KEBUTUHAN SISTEM OPERASI

  • Windows 7, 8, 10
  • USB 1.1/2.0 (or newer)
  • 64MB RAM (or better)
  • MACINTOSH
  • Mac OSX (10.4.11 or higher)
  • USB 1.1/2.0
  • 64 MB RAM (minimum)

 

Nilai Plus :

  • THX certified model
  • Kualitas studio dengan suara detail dan kaya
  • 4 picking patterns termasuk mode stereo
  • User-Friendly ( Plug n Play )
  • headphone output
  • Solid full metal body
  • Harga bersahabat

 

Nilai Minus :

  • Ukuran mic di luar standar, menyulitkan mencari shock mount yang pas
  • Tombol Kontrol yang ringkih
Audio Technica AT2020USB+

Review Microphone Audio Technica AT2020USB Plus

Audio Technica AT2020USB+
Cardioid Condenser USB Microphone

 

Salah satu USB Mic cardiod condenser terbaik di kelasnya saat ini. AT2020USB+ melanjutkan keberhasilan seri legendaris AT2020USB sebagai budget Mic dengan kualitas telah teruji.

Walaupun lebih sering digunakan untuk penggunaan rekaman musik, AT2020USB plus juga sangat ideal mulai dari home recording, podcast, voice-over, atau bahkan rekaman outdoor. AT2020USB+ menutupi kekurangan pada seri sebelumnya dengan fitur headphone jack dengan volume control yang memungkinkan user monitoring mic tanpa delay.

 

Audio Technica AT2020USB+

AT2020USB+ juga memiliki mix control untuk menggabungkan signal mic dengan pre-recorded audio. Pickup pattern AT2020USB plus mempunyai off-axis rejection yang cukup bagus, dan dengan 16-bit A/D converter (dynamic range lebih dari 90dB), 44.1 1/48kHz sample rate sehingga menghasilkan reproduksi suara yang solid.

 

at2020usb plus accessories

 

 

 

Spesifikasi Teknis

  • ELEMENT : Fixed-charge back plate, permanently polarized condenser
  • POLAR PATTERN   : Cardioid
  • FREQ RESPONSE   : 20 – 20,000 Hz
  • POWER REQUIREMENTS  : USB Power (5V DC)
  • BIT DEPTH   : 16 bit
  • SAMPLE RATE   : 44.1/48 kHz
  • VOL CONTROL   : Mix control; Headphone volume control
  • WEIGHT   : 386 g (13.6 oz)
  • DIMENSIONS   : 162.0 mm (6.38″) long, 52.0 mm (2.05″) maximum body diameter
  • OUTPUT CONNECTOR  : USB-type
  • HEADPHONE OUTPUT POWER    : 130 mW (at 1 kHz, 10% T.H.D., 32 ohm load)
  • HEADPHONE JACK    : 3.5 mm (1/8″) TRS (stereo)
  • ACCESSORIES FURNISHED   : Pivoting stand mount for 5/8″-27 threaded stands; 5/8″-27 to 3/8″-16 threaded adapter; soft protective pouch; tripod desk stand; 10′ (3.1 m) USB cable

Nilai Plus :

  • Material kuat
  • Reproduksi suara yang solid
  • Frekuensi range lebar  (20 – 20kHz)
  • User-Friendly—plug & play Kompatibel dengan Windows 7, Vista, XP, 2000 and Mac OS X
  • Harga Bersahabat
  • Sudah termasuk : Pivoting stand mount for 5/8″-27 threaded stands; 5/8″-27 to 3/8″-16 threaded adapter; soft protective pouch; tripod desk stand; 10′ (3.1 m) USB cable

Nilai Minus

  • Tripod bundling ringkih

 

audio visual presentation

Tips Audio Visual Yang Perlu Dipertimbangkan Agar Presentasi Efektif

Presentasi saat ini sudah sangat berubah bila dibandingkan dengan beberapa dekade lalu ketika perkembangan teknologi dan kebutuhan penyampaian informasi melalui media tradisional masih sangat terbatas.

Kini teknologi semakin cepat diserap dan kita semakin  beradaptasi dalam berbagai macam bentuk media. Mulai dari tujuan menampilkan content yang lebih menarik, hingga untuk menjangkau lebih banyak audiens.

Mulai dari kebutuhan e-learning dunia pendidikan, video conferencing dalam bisnis, hingga hosting webinar, PodCast atau YouTube Live, semua terhubung dengan virtual audiens.

Tips audio visual Presentation

Streaming media presentation

Dengan teknologi streaming yang semakin berkembang, presentasi semakin mudah dan murah. Berikut ini beberapa tips audio visual yang perlu dipertimbangkan agar presentasi efektif.

 

KUALITAS SUARA

Dalam penyampaian sebuah pesan yang paling utama adalah agar pesan mampu diterima dengan baik. Kualitas suara yang buruk akan sangat mengganggu audiens dan mengakibatkan menurunnya minat audiens dalam mengikuti materi yang disampaikan. Oleh karena itu, kualitas perangkat audio systems yang tepat dalam live streaming mutlak diperlukan.

Tips audio visual Presentations

Mulai penggunaan tipe mic yang sudah built-in di kamera atau desktop USB mic seperti Senheisser MK4 Digital, Audio Technica AT 2020 USB atau Blue Yeti, hingga penggunaan shotgun mic dan/ boom mic seperti Audio Technica BP4029, Rode VideoMic Pro atau Sennheiser MKE 400.

Selain penggunaan mic yang tepat, untuk menghasilkan kualitas suara yang baik dalam live streaming juga diperlukan perangkat lain seperti preamps to mics, mixers, audio interfaces, compressors dan aksesories lainnya.

 

PENCAHAYAAN

Dari mata turun ke hati, mungkin ungkapan paling sederhana untuk tips ini. Karena pencahayaan—lighting sangat penting dalam pengambilan gambar. Walaupun ruang yang digunakan dalam live streaming memiliki pencahayaan  alami—sinar matahari, akan lebih baik invest beberapa perangkat lighting.

Tips audio visual presentation

Kombinasi beberapa LED panel dimmable atau softbox lighting set akan sangat membantu menghasilkan pencahayaan yang pas yang pastinya membuat live streaming lebih menarik.

 

BANDWIDTH INTERNET

Bandwidth internet jangan sampai terabaikan, karena sangat krusial dalam penyampaian materi. Bandwidth internet menentukan seberapa banyak dan cepat data yang bisa ditransmisikan. Jaringan internet yang lemot dan gambar patah – patah akan membuat frustasi audiens virtual.

tips audio visual presentation

Pastikan bandwidth internet yang paling sesuai dengan kebutuhan dan melakukan test berulang sebelum live streaming atau videoconferencing.

 

TIPE KAMERA

Tips audio visual Dengan banyaknya pilihan kamera, untuk menentukan jenis dan berapa banyak kamera yang dibutuhkan, sangat tergantung mulai dari budget, selera pribadi, hingga berapa banyak sesi yang direncanakan dalam  live streaming atau event anda. Streaming paling sedikit membutuhkan satu fixed kamera.

Tentunya lebih dari satu kamera akan sangat membantu menghasilkan beberapa angle yang berbeda dalam pengambilan gambar, sehingga gambar yang dihasilkan lebih catchy.

Pada umumnya ada tiga pilihan dasar kamera, yaitu : Pertama Video Camcorder seperti Canon C100 Mark IIatau Canon G20.  Kedua DSLR kamera yang support live HDMI audio—video output seperti Sony a7S II atau Sony AX Series. Ketiga penggunaan Webcam seperti Logitech C920 atau bahkan menggunakan  Smartphone yang saat ini kualitas kedua kameranya—depan dan belakang semakin mumpuni.

Tips audio visual presentation

Kualitas kamera pasti berbanding lurus dengan hasilnya.  Yang perlu diingat bahwa lensa kamera merupakan kepanjangan mata virtual audiens yang menghidupkan moment saat live streaming.

 

 

 

MOBILE FRIENDLY

Perangkat mobile seperti smartphone dan tablet saat ini semakin tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan. Karena itu memiliki kualitas streaming yang mampu menyesuaikan (scalable streaming) dalam format  atau ecosystem smartphone dan tablet. Baik itu iOS maupun Android, akan memberikan pengaruh sangat besar. Karena remote audiens bisa tune– in dimana pun mereka berada. Dan pada akhirnya semakin banyak yang melihat karena tidak tergantung  pada perangkat yang mereka gunakan.

 

VIRTUAL AUDIENS

Membuat audiens selalu merasa terlibat sangatlah penting. Melihat kamera pada saat live streaming, sebagaimana pembicara melihat audiens pada saat seminar langsung, perlu di ingat dan dilakukan agar terbangung ikatan bahwa mereka bagian dari event.

 

Pastinya masih banyak hal lainnya yang menunjang sebuah presentasi—live  streaming berjalan sesuai harapan. Yang utama adalah memulai dari yang paling simpledan tetap fokus. Perbedaannya tidak terlihat hanya dalam waktu semalaman. Audiens pasti dapat menghargai. Pada akhirnya Anda akan menemukan sweet setup terbaik sesuai kebutuhan.

Saya harap sedikit tips ini dapat membantu mencapai tujuan anda memberikan presentasi terbaik. Happy streaming!

 

Integrasi audio visual dan teknologi informasi

Peranan teknologi informasi dalam merubah landscape industri Audio Visual

Integrasi audio visual dan teknologi informasi

Perkembangan industry A/V (Audio Visual) saat ini tidak dapat dipungkiri semakin IT-sentris. Integrasi audio visual dan teknologi informasi memberikan kemudahan bagi industri A/V dalam menawarkan solusi terbaik bagi customer.

Efisiensi biaya segalanya bagi customer, dan perkembangan teknologi informasi ikut mendorong industri Audio Visual memberikan solusi yang selalu dapat menyesuaikan kebutuhan customer tanpa harus menambah infrastruktur, peralatan, juga tanpa harus ribet mengatur segala sesuatunya secara terpisah.

Dengan solusi Audio Visual system yang terpusat, kebutuhan customer yang senantiasa berubah dapat disesuaikan dengan lebih fleksibel (scalable systems). Dalam hal inilah integrasi audio visual dan teknologi informasi berperan.

Pada awal perkembangannya, ada rasa khawatir dan ketidaknyamanan bahwa teknologi informasi dalam Audio Visual system memberikan kerumitan baru bagi end users dalam proses operasional dan perawatan. Namun, semua itu semakin memudar.

Perubahan ini karena teknologi informasi memainkan peranan yang sangat besar dalam kehidupan kita saat ini. Mulai dari wireless headphonemusic streaming hingga komunikasi melalui perantara aplikasi (via app-based interface). Penerimaan ini merefleksikan bagaimana industri IT terus bergerak dan membawa industry Audio Visual mengikuti jejaknya.

 

Audio Visual installation

Crestron Automation AV Solution

 

Kita sudah melihat perkembangan teknologi informasi yang semakin massive terutama perkembangan Big Data dan Internet of Things (IoT), dimana perangkat, orang dan informasi / data terhubung satu sama lain dan meningkatkan efisiensi, akurasi, user experience dan yang paling penting, ekonomis—economic  result.

Dan bicara Big Data dan IoT, perkembangan cloud systems punya pengaruh cukup besar pada perkembangan industri Audio Visual.

 

Audio Visual

Big Data dan IoT

 

Industri Audio Visual mulai berkembang menjadi cloud hosting. Digital signage salah satu contoh paling ideal bagi cloud hosted A/V, karena penggunaan dan kebutuhan integrasi Audio Visual system yang sama namun pada lokasi yang berbeda – beda.

Mulai dari gedung perkantoran hingga Airport merupakan contoh integrasi audio visual digital signage paling ideal menggunakan cloud systems.

audio visual

Digital Signage Diagram

 

Walaupun popularitas perkembangan teknologi IT kaitannya dengan cloud systems dalam Audio Visual industri dimulai melalui digital signage, akan tetapi integrasi Audio Visual yang lain akan menyusul dengan cepat.

Page 1 of 212